Sabar
#dirumahsaja
Jauh hari sebelum keponakan cantik yang bungsu datang dari pondok dalam rangka liburan, mbak alias ibunya, sudah bersiap - siap melakukan isolasi mandiri untuknya.
Mengapa?
Selain karena keponakan cantik datang dari luar kota, di rumah juga ada bapak dan ibu. Keduanya memiliki tingkat resiko dua kali lipat dimasa pandemi ini. Selain usia yang sudah lanjut, bapak dan ibu juga memiliki riwayat penyakit yang rentan tertular.
Maka, sebuah kamar paling depan yang hanya terhubung dengan ruang tamu pun disiapkan. Aturan dibuat. Keponakan cantik tidak boleh melewati dua ruangan tersebut. Aktivitasnya selama dua pekan hanya akan berlangsung disana.
Bapak dan ibu juga tidak boleh melakukan kontak phisik dengannya. Tidak boleh memeluk. Hanya cukup dipandangi saja.
.
Begitu ketat aturan yang dibuat mbak, sehingga bila terlihat keponakan cantik masuk ke ruang tengah, maka dia segera 'diusir' untuk kembali ke kamar.
Bila bapak dan ibu ingin berbincang, maka komunikasi dilakukan dari depan pintu kamar. Sementara keponakan cantik didalam kamar.
Tidak cukup sampai disitu. Bahkan saat makan dan shalat pun, dilakukan keponakan cantik secara terpisah.
Mbak menyiapkan sebuah meja yang diletakkan diantara ruang tamu dan ruang tengah. Jadi, walaupun makannya terpisah, kami yang diruang makan masih bisa melihat dan ngobrol dengannya. Yang pasti, tetap jaga jarak.
.
Bapak sempat protes. Karena 'karantina' selama 2 pekan untuk keponakan cantik, dirasa terlalu lama. Tapi demi kebaikan, protes pun tidak diterima.
.
Hingga disuatu sore, saat sedang menyiapkan santapan berbuka didapur....
"Lama gak pulang. Pas pulang, cuma bisa dilihat. Gak bisa dipeluk," curhat ibu padaku.
Jadi...
Selama 1,5 tahun ini, keponakan cantik yang bungsu ini berada dipondok. Karena begitulah aturan pondok untuk santrinya yang berada ditahun terakhir. Maka, terasa wajar, bila bapak dan ibu menahan kerinduan yang teramat sangat padanya.
.
"Sabar, bu. Cuma 14 hari kok," hiburku seraya tersenyum simpul.
Bagaimana?
Masih betah dirumah khan?
Jauh hari sebelum keponakan cantik yang bungsu datang dari pondok dalam rangka liburan, mbak alias ibunya, sudah bersiap - siap melakukan isolasi mandiri untuknya.
Mengapa?
Selain karena keponakan cantik datang dari luar kota, di rumah juga ada bapak dan ibu. Keduanya memiliki tingkat resiko dua kali lipat dimasa pandemi ini. Selain usia yang sudah lanjut, bapak dan ibu juga memiliki riwayat penyakit yang rentan tertular.
Maka, sebuah kamar paling depan yang hanya terhubung dengan ruang tamu pun disiapkan. Aturan dibuat. Keponakan cantik tidak boleh melewati dua ruangan tersebut. Aktivitasnya selama dua pekan hanya akan berlangsung disana.
Bapak dan ibu juga tidak boleh melakukan kontak phisik dengannya. Tidak boleh memeluk. Hanya cukup dipandangi saja.
Begitu ketat aturan yang dibuat mbak, sehingga bila terlihat keponakan cantik masuk ke ruang tengah, maka dia segera 'diusir' untuk kembali ke kamar.
Bila bapak dan ibu ingin berbincang, maka komunikasi dilakukan dari depan pintu kamar. Sementara keponakan cantik didalam kamar.
Tidak cukup sampai disitu. Bahkan saat makan dan shalat pun, dilakukan keponakan cantik secara terpisah.
Mbak menyiapkan sebuah meja yang diletakkan diantara ruang tamu dan ruang tengah. Jadi, walaupun makannya terpisah, kami yang diruang makan masih bisa melihat dan ngobrol dengannya. Yang pasti, tetap jaga jarak.
Bapak sempat protes. Karena 'karantina' selama 2 pekan untuk keponakan cantik, dirasa terlalu lama. Tapi demi kebaikan, protes pun tidak diterima.
Hingga disuatu sore, saat sedang menyiapkan santapan berbuka didapur....
"Lama gak pulang. Pas pulang, cuma bisa dilihat. Gak bisa dipeluk," curhat ibu padaku.
Jadi...
Selama 1,5 tahun ini, keponakan cantik yang bungsu ini berada dipondok. Karena begitulah aturan pondok untuk santrinya yang berada ditahun terakhir. Maka, terasa wajar, bila bapak dan ibu menahan kerinduan yang teramat sangat padanya.
"Sabar, bu. Cuma 14 hari kok," hiburku seraya tersenyum simpul.
Bagaimana?
Masih betah dirumah khan?
Posting : Kn
Komentar