Pertengkaran

Sama halnya seperti ibu yang memiliki dua orang putri, aku dan mbak, maka mbak pun memiliki dua cinta, keponakan cantik yang sulung dan bungsu.
.
Sama juga seperti aku dan mbak yang sering bertengkar saat kanak - kanak, maka kedua keponakan cantik pun melalui harinya dengan keributan - keributan yang 'gak penting'.
.
Bedanya, bila aku dan mbak ribut karena memperebutkan sesuatu dan berhenti bertengkar, ketika kami mulai beranjak remaja, maka kedua keponakan cantik ini, bertengkar karena keusilan masing - masing. Dan terus berlanjut hingga sekarang.
.
Satu saat, si sulung mengganggu yang bungsu. Diwaktu lain, gantian yang bungsu, usil pada si sulung. Dan muara dari semuanya tetap sama. Keributan! 😁.
.
"Kalian, tuh ya. Ributnya gak keren banget. Pusing dengernya. Kayak bulek sama ibu dong. Bertengkar untuk hal - hal yang nyata," omelku suatu hari pada kedua keponakan cantik.
Sedetik kemudian aku malah pusing sendiri memaknai kalimat 'bertengkar untuk hal - hal yang nyata'. 😁.
.
"Sekarang tanya Titi, deh. Sebagai saksi hidup pertengkaran dua generasi," keponakan cantik yang sulung tiba - tiba memberi usul. "Titi lebih pusing lihat bulek sama ibu bertengkar atau lihat mbak sama adek ribut?" Tanyanya pada ibu, yang dipanggil Titi.
.
Ibu tidak menjawab. Tapi malah tertawa geli.
.
"Ibu jujur ajah. Pasti lebih pusing melihat mbak sama adek khan?" Aku mempengaruhi ibu untuk berpendapat.
.
"Gak, ya Ti? Pasti bulek sama ibu yang ributnya bikin pusing," gantian keponakan cantik yang sulung memprovokasi.
.
Beberapa detik ibu masih lalui dengan tertawa dan tak memberi jawaban. Hingga akhirnya..
.
"Dua - duanya bikin pusing," jawab ibu. Yakin.
.
Dan kami tertawa bersama.
Karena memang tak ada pertengkaran yang damai. Semua pasti membuat pusing yang mendengarkannya.
.
Jadi?
Akur - akur dengan saudara, ya.
 
Posting : fb

Komentar

Postingan Populer