Karantina
#dirumahsaja
Awalnya, ketika mbak menyampaikan rencana isolasi mandiri pada keponakan cantik yang bungsu, dia 'ok - ok saja'. Menurut, apa yang disampaikan sang ibu.
Namun dia mengajukan satu syarat yang harus dipenuhi. Disiapkan beragam cemilan dikamar.
. Hal ini, disanggupi oleh mbak alias ibunya.
Lalu isolasi mandiri pun dimulai, seketika dia menjejakkan kaki di rumah. Tidak ada ritual cium tangan dan berpelukan dengan bapak ibu yang biasa dipanggil Akung Titi oleh para keponakan. Juga tak ada acara berleha - leha dulu setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam.
Dia langsung diperintahkan untuk masuk kamar mandi. Membersihkan diri. Dan 'mengurung' diri di kamar.
Sehari... dua hari.. tiga hari.. Setiap waktunya diisi dengan berada dikamar saja. Bila bosan, dia akan beranjak ke ruang tamu yang berada disebelah kamar. Cukup sampai disitu saja. Bila melewati batas ruang tamu, dia akan langsung diminta untuk kembali ke kamar.
Sang ibu sudah menyiapkan banyak buku untuk dibaca. Juga paket data untuk menyaksikan film yang dia suka.
Memasuki hari ke tujuh, bosan itu sudah tak terbendung.
Sore hari saat menunggu waktu berbuka, aku melihatnya menata bantal - bantal besar didepan pintu kamar. Kemudian dia rebahan disana.
"Ngapain, Dek? Bosan, ya?" Tanyaku yang menghampirinya dalam jarak satu meteran.
Dia tidak menjawab. Hanya memberikan senyuman seraya mengangguk.
"Baru beberapa hari dikamar sudah bosan. Bulek sudah 2 bulan ini cuma dirumah gak kemana - mana, biasa ajah tuh," ujarku membandingkan.
Tapi kemudian aku ingat..
"Oya, Adek sudah 1,5 tahun gak keluar pondok, ya. Berarti isolasinya sudah lebih lama," aku berkata seraya tertawa.
Dipondok maupun dirumah, dia sama - sama 'dikurung'.
.
Masih semangat dirumah saja dan jaga jarak, khan?
Bila ingin Covid 19 segera berakhir, mulailah disiplin dari diri sendiri dan keluarga terdekat kita. Semangaaaatt...
.
Awalnya, ketika mbak menyampaikan rencana isolasi mandiri pada keponakan cantik yang bungsu, dia 'ok - ok saja'. Menurut, apa yang disampaikan sang ibu.
Namun dia mengajukan satu syarat yang harus dipenuhi. Disiapkan beragam cemilan dikamar.
Lalu isolasi mandiri pun dimulai, seketika dia menjejakkan kaki di rumah. Tidak ada ritual cium tangan dan berpelukan dengan bapak ibu yang biasa dipanggil Akung Titi oleh para keponakan. Juga tak ada acara berleha - leha dulu setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam.
Dia langsung diperintahkan untuk masuk kamar mandi. Membersihkan diri. Dan 'mengurung' diri di kamar.
Sehari... dua hari.. tiga hari.. Setiap waktunya diisi dengan berada dikamar saja. Bila bosan, dia akan beranjak ke ruang tamu yang berada disebelah kamar. Cukup sampai disitu saja. Bila melewati batas ruang tamu, dia akan langsung diminta untuk kembali ke kamar.
Sang ibu sudah menyiapkan banyak buku untuk dibaca. Juga paket data untuk menyaksikan film yang dia suka.
Memasuki hari ke tujuh, bosan itu sudah tak terbendung.
Sore hari saat menunggu waktu berbuka, aku melihatnya menata bantal - bantal besar didepan pintu kamar. Kemudian dia rebahan disana.
"Ngapain, Dek? Bosan, ya?" Tanyaku yang menghampirinya dalam jarak satu meteran.
Dia tidak menjawab. Hanya memberikan senyuman seraya mengangguk.
"Baru beberapa hari dikamar sudah bosan. Bulek sudah 2 bulan ini cuma dirumah gak kemana - mana, biasa ajah tuh," ujarku membandingkan.
Tapi kemudian aku ingat..
"Oya, Adek sudah 1,5 tahun gak keluar pondok, ya. Berarti isolasinya sudah lebih lama," aku berkata seraya tertawa.
Dipondok maupun dirumah, dia sama - sama 'dikurung'.
Masih semangat dirumah saja dan jaga jarak, khan?
Bila ingin Covid 19 segera berakhir, mulailah disiplin dari diri sendiri dan keluarga terdekat kita. Semangaaaatt...
Posting : Kn
Komentar