Interaksi Terbatas
#dirumahsaja
Memastikan bapak ibu tetap sehat dan dapat beraktivitas dengan senang diusia senja, sudah menjadi komitmen kami bertiga. Aku, mbak dan adek besar. Tak heran bila saat Covid - 19 belum menjadi pandemi, kami sudah memutuskan untuk 'merumahkan' keduanya. Membatasi interaksi dengan 'dunia luar'.
Pastinya ada 'diskusi' terlebih dahulu antara kami dan terutama, bapak. Namun itu lebih bersifat 'informal' saja. Karena sesungguhnya keputusan sudah kami ambil sebelum diskusi terjadi.
. Yaitu bapak ibu harus tetap berada di rumah.
Maka, tak heran bila saat keponakan cantik yang bungsu datang dari pondok, mbak sangat ketat membuat aturan isolasi mandiri baginya.
Mbak juga 'melayani' sepenuhnya kebutuhan sang putri. Lantaran si cantik ini tidak boleh beranjak dari kamar. Mbak menyiapkan makan dan minumnya. Karena, jangankan ke ruang makan, selangkah saja keponakan cantik menginjakkan kaki di ruang tengah, dia sudah segera diminta untuk kembali ke kamar. Karena ruang tengah adalah salah satu tempat yang biasa disinggahi bapak ibu untuk beristirahat.
.
Hingga disuatu tengah malam, mbak mendapati kedua putrinya tengah berbincang di ruang makan.
"Kok disini?" Tanya mbak heran.
"Khan akung sama titi sudah tidur," jawab sang putri.
Iya juga, sih.
.
Dan ketika kutanya, apa keinginannya nanti setelah selesai isolasi mandiri? Jawabannya adalah dia ingin pergi ke bonbin.
Ha? Mana bolehlah.
.
Masih tetap setia #dirumahsaja khan? Masih tetap #jagajarak tho?
Bila kita masih tetap acuh dan tidak peduli, maka akan semakin lama lagi pandemi ini berakhir.
Semua tergantung kita. Bagaimana kita mau disiplin dengan aturan yang ada.
Memang Allah yang turunkan segala macam penyakit. Tapi Allah memberi kita akal pikiran untuk melakukan usaha agar penyakit itu dapat terhindari. Bila pun dengan semua usaha itu, masih tetap juga sakit, maka itu adalah takdirNya.
Jadi?
Pilihan ada ditangan kita masing - masing.
Tetap sehat. Semangaaaattt
.
Memastikan bapak ibu tetap sehat dan dapat beraktivitas dengan senang diusia senja, sudah menjadi komitmen kami bertiga. Aku, mbak dan adek besar. Tak heran bila saat Covid - 19 belum menjadi pandemi, kami sudah memutuskan untuk 'merumahkan' keduanya. Membatasi interaksi dengan 'dunia luar'.
Pastinya ada 'diskusi' terlebih dahulu antara kami dan terutama, bapak. Namun itu lebih bersifat 'informal' saja. Karena sesungguhnya keputusan sudah kami ambil sebelum diskusi terjadi.
Maka, tak heran bila saat keponakan cantik yang bungsu datang dari pondok, mbak sangat ketat membuat aturan isolasi mandiri baginya.
Mbak juga 'melayani' sepenuhnya kebutuhan sang putri. Lantaran si cantik ini tidak boleh beranjak dari kamar. Mbak menyiapkan makan dan minumnya. Karena, jangankan ke ruang makan, selangkah saja keponakan cantik menginjakkan kaki di ruang tengah, dia sudah segera diminta untuk kembali ke kamar. Karena ruang tengah adalah salah satu tempat yang biasa disinggahi bapak ibu untuk beristirahat.
Hingga disuatu tengah malam, mbak mendapati kedua putrinya tengah berbincang di ruang makan.
"Kok disini?" Tanya mbak heran.
"Khan akung sama titi sudah tidur," jawab sang putri.
Iya juga, sih.
Dan ketika kutanya, apa keinginannya nanti setelah selesai isolasi mandiri? Jawabannya adalah dia ingin pergi ke bonbin.
Ha? Mana bolehlah.
Masih tetap setia #dirumahsaja khan? Masih tetap #jagajarak tho?
Bila kita masih tetap acuh dan tidak peduli, maka akan semakin lama lagi pandemi ini berakhir.
Semua tergantung kita. Bagaimana kita mau disiplin dengan aturan yang ada.
Memang Allah yang turunkan segala macam penyakit. Tapi Allah memberi kita akal pikiran untuk melakukan usaha agar penyakit itu dapat terhindari. Bila pun dengan semua usaha itu, masih tetap juga sakit, maka itu adalah takdirNya.
Jadi?
Pilihan ada ditangan kita masing - masing.
Tetap sehat. Semangaaaattt
Posting : Kn
Komentar