Dimsum
.
Ada hikmah dibalik himbauan untuk tidak kemana - mana. Tetap dirumah saja. Karena keponakan cantik yang sulung, jadi suka turun ke dapur. Mencoba beragam macam resep. Setelah sebelumnya Oreo Dessert Box, kemudian Fu yunghai, maka beberapa hari lalu...
.
"Bul, kita bikin dimsum, yok," ajaknya.
.
"Bulek, sih hayuk ajah," jawabku. "Mbak Na kirim resepnya ke bulek." Selalu begitu ketika dia memintaku untuk praktek sebuah resep baru. Aku mempersilakan dia untuk memilih sendiri resep yang akan diujicobakan. Agar sesuai dengan keinginannya.
.
Maka disuatu siang, mulailah kami mempraktekkan resep dimsum pilihannya. Tak ada kendala berarti saat membuat kulitnya. Hanya terjadi masalah kecil saat adonan yang sudah dicetak dan ditumpuk, ternyata lengket satu sama lain. Rupanya diperlukan taburan tepung diantara kulit - kulit itu.
.
Begitu pun ketika membuat adonan isi. Semua sesuai instruksi pada resep. Aku hanya menambahkan sedikit bawang putih dan bawang merah dari yang tertera pada resep. Karena perasaanku mengatakan bahwa bumbunya kurang banyak.
.
Jadi, bila saat memasak, ibu memakai ilmu kira - kira, maka aku memiliki ilmu perasaan. Ilmu yang masing - masing didapatkan dari pengalaman dan 'rasa tidak percaya' atas resep yang dibuat orang lain.
.
Lalu masalah pun muncul ketika adonan mulai diisikan pada cetakan kulit. Ternyata bagi kami yang baru pertama kali membuat dimsum, tampilan makanan ini jauh dari kata cantik. Seperti yang terlihat pada video pembuatan.
.
Bila aslinya tampak layaknya bunga, maka yang kami buat, lebih mirip adonan yang dibungkus seadanya. Jauh dari kata menarik.
.
Tapi, percaya diri itu harus tetap ada untuk menjaga semangat belajar dan mencoba. Dan ketika dimsum ini sudah matang, kemudian dicicipi, beginilah komentar keponakan cantik, "Enak, kok. Gak masalah. Tampilan gak penting. Yang penting itu rasa."
.
Aku pun tergelak mendengarnya.
Semangat, ya mencoba resep yang lainnya... biar gak bosen dirumah saja.
Posting : Ig
Komentar