Maafkan

Ceritaku....

Ketika sekolah diputuskan untuk libur dalam waktu tak terbatas, aku merasa ini terlalu berlebihan. Wabah ini bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ini akan segera berakhir. Sekolah akan kembali seperti semula.

Namun aku salah...

Ketika berulang kali harus mengevaluasi batas waktu libur, memperpanjang lagi, lagi dan lagi, aku sadar bahwa wabah ini benar adanya. Entah kapan akan berakhir.

Lalu hastag dirumahsaja pun menjadi hal yang terus didengungkan. Menjaga jarak diharuskan. Memakai masker 'diwajibkan'. Tetiba kurasakan ada banyak yang hilang.

Aku tak bisa lagi bersalaman. Karena itu tak disarankan. Apalagi berpelukan. Cium pipi kiri dan kanan.

Aku tak bisa lagi leluasa bertemu dengan orang lain. Karena harus sesedikit mungkin berinteraksi dengan orang selain keluarga inti.

Tak ada lagi silaturahim. Kumpul - kumpul. Cerita sana sini. Apalagi berbincang panjang di tempat kuliner.

Tak ada lagi shalat jama'ah ke masjid. Karena saat ini semua ibadah dilakukan dirumah.

Padahal sebentar lagi Ramadhan. Itu berarti tak akan ada shalat taraweh berjama'ah. Buka puasa di masjid. Daaaann.... belajar bersama anak - anak menjelang berbuka.

Aku ingat...
Saat Ramadhan, biasanya setiap hari aku akan merepotkan ibu guru. Meminta membantuku menyiapkan bahan untuk bermain dengan anak - anak.

Aku juga sering mencuri waktu ditengah menemani anak - anak, untuk membuat beragam permainan.

Tak jarang aku mengalihkan perhatian dari anak - anak karena sibuk dengan segala persiapan untuk kegiatan menjelang berbuka puasa.

Kemudian, aku akan melibatkan ibu guru juga untuk memilihkan hadiah. Bahkan lebih dari itu. Menyiapkan semua hadiah itu, sehingga aku hanya tinggal membagikannya saja.

Dan itu semua tak ada ditahun ini...

Ramadhan sudah didepan mata. Biasanya aku akan meminta maaf, menjabat tangan, berpelukan, menyisakan mata yang basah menahan jatuhnya air mata.

Tahun ini, itu semua tak bisa kulakukan. Karena Ramadhan kali ini berbeda. Tidak seperti biasa.

Ada yang hilang. Ada rasa yang menguap. Rasa sedih yang tiba - tiba datang. Akankah Ramadhan ini akan jadi Ramadhan yang sedih?

Berharap tidak.
Berharap justru Ramadhan ini menjadi lebih baik. Karena lebih dekat lagi denganNya. Fokus padaNya. Hanya padaNya. Tak lagi berpikir tentang hal lainnya.

Dan berharap.... akan ada lagi Ramadhan lain yang kita temui...

Tulus meminta...

Maafkan aku untuk segala khilaf dan salah selama ini.

Maafkan aku yang masih terus belajar menjadi sahabat dan teman yang baik.

Maafkan aku yang masih belum mampu menata kata hingga menyisakan luka diujung pertemuan.

Maafkan aku yang tak pandai menjaga rasa hingga menorehkan sakit dihati.

Maafkan aku yang tak kunjung pandai memahami makna tersirat diantara yang tersurat

Maafkan aku yang masih belum baik. Maafkan .... maafkan aku.

Gedongan Baru
20 April 2020

Posting : Kn

Komentar

Postingan Populer