Lebay
Di sekolah, ibu guru membiasakan anak - anak untuk mengucapkan kata -
kata santun. Seperti : maaf, terima kasih, tolong dan permisi. Selain
karena hal ini untuk menanamkan kebiasaan baik sejak dini, mampu
mengucapkan kata - kata santun juga termasuk indikator perkembangan anak
pada aspek sosial emosional.
.
Agar anak - anak dapat menggunakan kata - kata ini dengan tepat, maka ibu guru harus selalu memberikan contoh. Sehingga mereka pun tahu bagaimana penggunaan setiap kata santun itu.
.
Dan, beginilah kejadiannya...
.
"Bu, ini mainan siapa?" Aku bertanya pada salah satu ibu guru.
Saat itu, anak - anak sudah bersiap untuk makan siang. Mereka sudah duduk manis mengitari meja makan. Sementara disalah satu sudut kelas, terlihat sebuah keranjang mainan balok warna yang belum dikembalikan ke rak mainan.
.
"Oya, itu punya 'Aa, bu," jawab ibu guru. 'Aa adalah sapaan khas untuk Rafif.
.
"'Aa, mainannya dibereskan dulu, ya," aku memberi perintah pada Rafif yang sudah berada di meja makan.
.
Rafif memalingkan wajahnya saat kupanggil. Lalu dengan tidak yakin menghampiri keranjang balok warna. Tampaknya dia ragu apakah itu memang keranjang balok miliknya. Hingga kemudian...
.
"Astaga!" Serunya seraya menutup mulut dengan kedua tangan. "Iya Bu Yayuk. 'Aa lupa. Maaf, ya Bu Yayuk," pintanya dengan sepenuh hati. Raut wajahnya terlihat sangat bersungguh - sungguh
.
Aku dan ibu guru yang mendengar permohonan maaf Rafif, saling pandang untuk kemudian tergelak. Karena yang dilakukan Rafif, mirip sekali yang sering kulakukan bila melakukan kesalahan dan meminta maaf pada anak - anak.
.
Ternyata, telihat lebay, ya Nak.. 😛.
.
Agar anak - anak dapat menggunakan kata - kata ini dengan tepat, maka ibu guru harus selalu memberikan contoh. Sehingga mereka pun tahu bagaimana penggunaan setiap kata santun itu.
.
Dan, beginilah kejadiannya...
.
"Bu, ini mainan siapa?" Aku bertanya pada salah satu ibu guru.
Saat itu, anak - anak sudah bersiap untuk makan siang. Mereka sudah duduk manis mengitari meja makan. Sementara disalah satu sudut kelas, terlihat sebuah keranjang mainan balok warna yang belum dikembalikan ke rak mainan.
.
"Oya, itu punya 'Aa, bu," jawab ibu guru. 'Aa adalah sapaan khas untuk Rafif.
.
"'Aa, mainannya dibereskan dulu, ya," aku memberi perintah pada Rafif yang sudah berada di meja makan.
.
Rafif memalingkan wajahnya saat kupanggil. Lalu dengan tidak yakin menghampiri keranjang balok warna. Tampaknya dia ragu apakah itu memang keranjang balok miliknya. Hingga kemudian...
.
"Astaga!" Serunya seraya menutup mulut dengan kedua tangan. "Iya Bu Yayuk. 'Aa lupa. Maaf, ya Bu Yayuk," pintanya dengan sepenuh hati. Raut wajahnya terlihat sangat bersungguh - sungguh
.
Aku dan ibu guru yang mendengar permohonan maaf Rafif, saling pandang untuk kemudian tergelak. Karena yang dilakukan Rafif, mirip sekali yang sering kulakukan bila melakukan kesalahan dan meminta maaf pada anak - anak.
.
Ternyata, telihat lebay, ya Nak.. 😛.
Komentar