Enak atau Lapar?
Saat memasak, ibu sangat percaya pada lidahku untuk mencicipi masakan
beliau. Bila aku di rumah, maka akulah yang akan diminta untuk merasai
masakan terlebih dahulu sebelum dihidangkan. Ibu juga menerima saran dan
pendapatku atas rasa masakan tersebut. Bila aku sudah bilang 'pas',
barulah masakan ini siap disantap. 😊.
.
Tapi, jadi masalah ketika aku berpuasa. Karena walaupun diperbolehkan mencicipi masakan asal tidak ditelan, aku memilih untuk tidak melakukannya. Karena aku tidak yakin rasa yang ada diujung lidah itu, tidak terbawa dan tertelan hingga membatalkan puasaku.
.
Maka, seperti inilah kejadiannya..
.
"Sayurnya dicicipi dulu, dek," ujar ibu saat pagi ini kami menyiapkan makan siang untuk jama'ah shalat Jum'at di masjid sebelah rumah.
.
"Adek khan lagi puasa, bu," jawabku sambil nyengir.
.
"Oiya," ibu teringat. Kemudian mencoba mengambil sedikit sayur dan mencicipinya. "Kurang asin," ibu memberitahu dan memberikan sesendok teh garam.
.
Aku terus mengaduk agar garam itu rata dan ibu kembali mencicipi. Masih terasa kurang asin. Lalu memasukkan garam lagi. Mencicipi. Begitu hingga beberapa kali. Dan itu membuatku jadi khawatir bila nanti sayurnya justru keasinan.
.
"Ibu minum ajah dulu," aku memberi saran. Harapannya, lidah ibu jadi lebih bisa merasai masakan setelah minum air bening.
.
Ibu mengikuti saranku. Dan mencoba lagi mencicipi sayur kacang panjangnya. Tapi tetap terasa kurang asin menurut beliau.
.
"Coba pakai nasi, bu," aku kembali memberi saran sebelum ibu menambahkan lagi garam ke sayuran.
.
Ibu beranjak mengambil piring dan nasi. Lalu memberi sedikit sayur.
.
"Gimana, bu?" Tanyaku setelah ibu makan sayur dengan nasi.
.
Ibu belum memberikan jawaban. Masih mencoba merasai. Kemudian mengambil nasi lagi. Hingga beberapa saat kemudian ketika nasi di piring beliau sudah habis..
.
"Sudah. Enak. Pas rasanya," jawab ibu seraya tersenyum.
.
Aku yang mendengar komentar ibu pun tergelak. Itu sih, laper bu. Bukan nyicipin masakan. 😂.
.
Sehat terus ibu...
(Posting : fb)
.
Tapi, jadi masalah ketika aku berpuasa. Karena walaupun diperbolehkan mencicipi masakan asal tidak ditelan, aku memilih untuk tidak melakukannya. Karena aku tidak yakin rasa yang ada diujung lidah itu, tidak terbawa dan tertelan hingga membatalkan puasaku.
.
Maka, seperti inilah kejadiannya..
.
"Sayurnya dicicipi dulu, dek," ujar ibu saat pagi ini kami menyiapkan makan siang untuk jama'ah shalat Jum'at di masjid sebelah rumah.
.
"Adek khan lagi puasa, bu," jawabku sambil nyengir.
.
"Oiya," ibu teringat. Kemudian mencoba mengambil sedikit sayur dan mencicipinya. "Kurang asin," ibu memberitahu dan memberikan sesendok teh garam.
.
Aku terus mengaduk agar garam itu rata dan ibu kembali mencicipi. Masih terasa kurang asin. Lalu memasukkan garam lagi. Mencicipi. Begitu hingga beberapa kali. Dan itu membuatku jadi khawatir bila nanti sayurnya justru keasinan.
.
"Ibu minum ajah dulu," aku memberi saran. Harapannya, lidah ibu jadi lebih bisa merasai masakan setelah minum air bening.
.
Ibu mengikuti saranku. Dan mencoba lagi mencicipi sayur kacang panjangnya. Tapi tetap terasa kurang asin menurut beliau.
.
"Coba pakai nasi, bu," aku kembali memberi saran sebelum ibu menambahkan lagi garam ke sayuran.
.
Ibu beranjak mengambil piring dan nasi. Lalu memberi sedikit sayur.
.
"Gimana, bu?" Tanyaku setelah ibu makan sayur dengan nasi.
.
Ibu belum memberikan jawaban. Masih mencoba merasai. Kemudian mengambil nasi lagi. Hingga beberapa saat kemudian ketika nasi di piring beliau sudah habis..
.
"Sudah. Enak. Pas rasanya," jawab ibu seraya tersenyum.
.
Aku yang mendengar komentar ibu pun tergelak. Itu sih, laper bu. Bukan nyicipin masakan. 😂.
.
Sehat terus ibu...
(Posting : fb)
Komentar