Buku
Jadi begini aturannya...
.
Bila ada yang merusak atau tidak memperlakukan buku dengan baik, maka 'hukuman'nya, tidak boleh mengambil buku pilihan dirak. Namun masih boleh ikut membaca atau melihat - lihat buku teman.
.
Yang termasuk merusak buku adalah melipat - lipat halaman buku layaknya kertas lipat. Atau merobek - robek seperti kertas bekas. Atau meremas halaman buku sebagaimana meremas spon busa saat bermain air sabun. 😆.
.
Sedangkan yang termasuk tidak memperlakukan buku dengan baik yaitu menjadikan buku sebagai lap pel untuk membersihkan lantai. Atau dilempar - lempar. Bisa juga dijadikan alas tidur layaknya bantal. Bahkan ada juga buku yang dijadikan alas duduk. 😀.
.
Maka, inilah ceritanya...
.
"Rafif, bukunya dibaca. Bukan dibuat ngepel lantai," sebuah peringatan pertama terdengar dari ibu guru.
.
Saat itu aku melihat Rafif menjadikan buku yang diambilnya sebagai pembersih lantai. Ditekan dengan kedua tangan. Kemudian dibawa meluncur kesana kemari. Layaknya orang yang sedang mengepel lantai.
.
"Rafif, sini ibu bacakan bukunya," ajak ibu guru saat Rafif membolak balik halaman buku dengan kasar. Tapi Rafif menolak.
.
Hingga peringatan ketiga terdengar. Namun sudah terlambat. Karena satu halaman buku sudah robek. Lantaran Rafif menarik buku dengan paksa saat Varo datang mendekat untuk turut melihat isi bukunya.
.
Dan berakhirlah dia denganku... 😀
.
"Rafif, maaf ya. Selama satu pekan ini, Rafif tidak boleh ambil buku dirak," aku mengingatkannya akan peraturan saat membaca atau melihat - lihat isi buku. "Tapi Rafif masih boleh melihat buku punya teman," aku memberi saran.
.
"Gak mau! Aku mau baca buku," tangisnya meledak.
.
"Maaf, itu aturannya. Dan ibu gak boleh pilih kasih dong. Hanya gara - gara Aa' anak ibu," jawabku sambil tersenyum.
.
"Aku mau baca buku!" Masih tetap dengan menangis. Kali ini volume suaranya semakin tinggi.
.
"Maaf. Walau Aa' menangis, tetap tidak boleh," jawabku lagi.
.
Dan tangisnya semakin menjadi. 'Bersyukurnya', aku punya telinga yang cukup kebal untuk mendengarkan tangisan ini. Hingga beberapa menit kemudian...
.
"Aku mau es krim," pintanya dengan sangat manis.
.
Lha? Aku tergelak mendengar permintaannya. 😂.
.
Aa' mah ada - ada ajah...
.
Bila ada yang merusak atau tidak memperlakukan buku dengan baik, maka 'hukuman'nya, tidak boleh mengambil buku pilihan dirak. Namun masih boleh ikut membaca atau melihat - lihat buku teman.
.
Yang termasuk merusak buku adalah melipat - lipat halaman buku layaknya kertas lipat. Atau merobek - robek seperti kertas bekas. Atau meremas halaman buku sebagaimana meremas spon busa saat bermain air sabun. 😆.
.
Sedangkan yang termasuk tidak memperlakukan buku dengan baik yaitu menjadikan buku sebagai lap pel untuk membersihkan lantai. Atau dilempar - lempar. Bisa juga dijadikan alas tidur layaknya bantal. Bahkan ada juga buku yang dijadikan alas duduk. 😀.
.
Maka, inilah ceritanya...
.
"Rafif, bukunya dibaca. Bukan dibuat ngepel lantai," sebuah peringatan pertama terdengar dari ibu guru.
.
Saat itu aku melihat Rafif menjadikan buku yang diambilnya sebagai pembersih lantai. Ditekan dengan kedua tangan. Kemudian dibawa meluncur kesana kemari. Layaknya orang yang sedang mengepel lantai.
.
"Rafif, sini ibu bacakan bukunya," ajak ibu guru saat Rafif membolak balik halaman buku dengan kasar. Tapi Rafif menolak.
.
Hingga peringatan ketiga terdengar. Namun sudah terlambat. Karena satu halaman buku sudah robek. Lantaran Rafif menarik buku dengan paksa saat Varo datang mendekat untuk turut melihat isi bukunya.
.
Dan berakhirlah dia denganku... 😀
.
"Rafif, maaf ya. Selama satu pekan ini, Rafif tidak boleh ambil buku dirak," aku mengingatkannya akan peraturan saat membaca atau melihat - lihat isi buku. "Tapi Rafif masih boleh melihat buku punya teman," aku memberi saran.
.
"Gak mau! Aku mau baca buku," tangisnya meledak.
.
"Maaf, itu aturannya. Dan ibu gak boleh pilih kasih dong. Hanya gara - gara Aa' anak ibu," jawabku sambil tersenyum.
.
"Aku mau baca buku!" Masih tetap dengan menangis. Kali ini volume suaranya semakin tinggi.
.
"Maaf. Walau Aa' menangis, tetap tidak boleh," jawabku lagi.
.
Dan tangisnya semakin menjadi. 'Bersyukurnya', aku punya telinga yang cukup kebal untuk mendengarkan tangisan ini. Hingga beberapa menit kemudian...
.
"Aku mau es krim," pintanya dengan sangat manis.
.
Lha? Aku tergelak mendengar permintaannya. 😂.
.
Aa' mah ada - ada ajah...
(posting : fb)
Komentar