Suara Hewan

Pada aspek perkembangan kognitif, didapati satu indikator perkembangan anak yaitu mengenal suara berbagai jenis hewan. Dengan mengenali perbedaannya, anak akan tahu nama hewan, tempat tinggalnya, ciri, makanan dan lain sebagainya.
.
Dan ini ceritanya...
.
"Bu Yayuk, Varo pukul semut," lapor Hana disuatu pagi.
.
Di sekolah, anak diajarkan untuk menyayangi hewan. Tidak boleh menyakiti. Kecuali itu hewan yang berbahaya. Semut termasuk hewan yang sering terlihat wara - wari dihadapan anak - anak. Mereka senang sekali mengikuti pergerakan hewan kecil ini. Ketika sudah mulai 'gatal', tangan pun turun untuk memukul semut.
.
"Varo, kalau semutnya mati, kasihan lho nanti temen - temennya nyariin," aku mengingatkan semut. "Karena gak ketemu, ntar temennya sedih. Nangis," aku mengeluarkan raut wajah sedih dan suara menangis.
.
"Semutnya gak punya temen, ya bu?" Hana ikutan nimbrung.
.
"Iya. Temennya hilang satu karena dipukul."
.
"Suaranya semut kalau nangis gimana, bu?" Hana bertanya penasaran.
.
Waduh... kudu ngarang, nih.. 😀.
.
"Ibu belum pernah mendengar suara semut," aku jujur mengakui. "Tapi mungkin gini kali, ya," aku mulai pasang akting wajah sedih banget seraya merintih memanggil - manggil, "Semut.. Semut... Kamu dimana?"
.
Hana dan Varo tertawa geli melihatku.
.
"Kalau suara semut gimana, bu?"
.
Walah... masih kurang juga ngarangnya? 😅.
.
"Gimana, ya? Ibu belum pernah denger. Mungkin ... mut.. mut," aku menjawab dengan bercanda.
.
Dan tampaknta mereka puas. Karena tak bertanya lagi.
.
Di sore hari ini...
.
"Bu Yayuk, ini kodok," Hana menunjukkan sebuah bentuk dari plastisin.
.
"Oya? Bagus," pujiku. "Bunyi kodok gimana, Han?"
.
"Dok.. dok..," jawab Hana menirukan gayaku saat bersuara semut.
.
Aku tergelak melihatnya. Kena juga dikerjain Hana. 😂.

Komentar

Postingan Populer