Senyum

Salah satu indikator perkembangan anak pada aspek sosial emosional adalah kebiasaan menyapa ibu guru dan teman. Tercakup didalamnya adalah sikap ramah pada orang lain.
.
Dan sebagai panutan di sekolah, ibu guru harus bisa memberikan contoh nyata pada anak - anak.
.
Maka, beginilah yang terjadi kemudian...
.
"Rafif, ikut ibu ambil snack, yok," aku mengajak Rafif yang sudah mulai membuat keributan dengan Hibri.
.
Segera saja bocah laki - laki ini beranjak ke belakang. Mengambil sandal. Memakainya. Lalu menggandeng tanganku.
.
Disepanjang jalan yang jauhnya hanya selemparan batu saja, kami berbincang. Lebih tepatnya aku bertanya, dia menjawab.
.
Hingga kemudian kami berpapasan dengan seorang ibu dan anaknya yang naik sepeda motor. Tetangga di sekitar sekolah.
.
"Monggo, bu," ujar beliau. Sebuah sapaan yang lazim terdengar saat berpapasan dengan orang yang dikenal.
.
"Oiya," jawabku seraya tersenyum.
.
"Itu siapa?" Tanya Rafif.
.
"Tetangga."
.
"Tetangga? Bu Yayuk kenal?"
.
"Gak. Tapi ibu sering lihat."
.
"Kok senyum?" Tanya Rafif lagi.
.
"Khan tadi ibunya senyum. Jadi Bu Yayuk juga membalas senyumnya," aku menjelaskan.
.
"Gak boleh senyum - senyum!" Rafif berkata ketus.
.
Ha?
.
"Khan kita harus ramah dengan orang lain. Membalas senyum mereka. Kalau gak senyum, ntar ibu dibilang galak lho," aku menjelaskan dengan menahan tawa. Lantaran masih sering tersenyum pun aku tetap dibilang galak. Apalagi kalau pasang muka masam. 😂.
.
"Gak boleh senyum - senyum. Itu bukan temen!" Rafif memberi alasan.
.
Dan aku pun tergelak. 😂.
Seharusnya di indikator ditambah dengan... '...
.guru, teman dan tetangga sekolah'. 😜.

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer