Sabar

Ini cerita tentang sebuah proses belajar...
.
Sore hari...
.
"Kakak, bereskan mainannya. Sebentar lagi papa jemput," aku memanggil kakak (sebut saja begitu). "Ambil sepatunya, ya."
.
Masing - masing orang tua memiliki waktu tertentu untuk menjemput anaknya di sekolah. Sehingga ibu guru pun hafal. Dan 15 - 20 menit sebelum dijemput, aku sudah meminta kakak untuk memakai sepatunya.
.
Kakak beranjak dari tempatnya bermain. Membereskan mainan dan mengambil sepatu di rak belakang.
.
"Sekarang, kakak pakai sepatunya," aku memberi perintah.
.
"Dibantuin Bu Yayuk ajah," rengeknya.
.
"Tidak!" Aku tegas menjawab. "Kakak bisa memakai sepatu sendiri. Bisa," aku menekankan kata 'bisa' pada Kakak.
.
Malas - malasan Kakak mulai memakai sepatunya.
.
"Gak bisa, Bu Yayuk," ujarnya menahan tangis.
.
"Kakak bisa," aku menyemangati. "Pegang sepatunya. Konsentrasi," aku berkata seraya wara wiri membantu anak lain yang bersiap mandi sore.
.
Kakak memegangi sepatunya dengan amarah yang terpancar diwajah. Bercampur tangis yang tertahan karena aku tidak memberikan bantuan, seperti yang diinginkannya.
.
Dibukanya perekat yang ada di sepatu. Mencoba memasukkan kaki kanannya. Namun tak berhasil lantaran lidah sepatu masuk ke dalam.
.
"Gak bisa, Bu Yayuk," lapornya bercampur dengan rengekan lagi.
.
Aku menghampirinya. "Wah, kakak pintar. Bisa lho ternyata pakai sepatu sendiri," pujiku. "Ini tinggal sedikit lagi. Lidahnya dikeluarkan, trus kaki kakak bisa masuk, deh," aku memberi petunjuk sambil memegang tangan Kakak untuk mengambil lidah sepatu yang terselip ke dalam.
.
Kata pujian dan semangat masih terus aku berikan saat Kakak mencoba lagi memakai sepatu. Dan akhirnya berhasil.
.
Dan hal ini berulang sekitar satu bulan lamanya. Setiap sore. Sekarang Kakak bahkan bisa memakai kaos kaki sendiri. Tentu saja belum rapi. Tapi yang penting, dia sudah dapat melakukannya sendiri. Bantuanku pun sudah tak dimintanya lagi.
.
Waktu yang dibutuhkannya untuk memakai sepatu pun sudah jauh berkurang. Hanya sekitar 5 menitan saja. Dia sudah siap dengan kaos kaki dan sepatu yang terpasang.
.
Dan pagi ini....
.
"Kakak sekarang sudah bisa pakai kaos kaki dan sepatu sendiri, bu," aku memberi laporan pada sang mama.
.
"Oya?" Takjub beliau mendengarnya.
.
Lalu aku pun bercerita tentang bagaimana proses belajar Kakak memakai sepatu dan kaos kaki sendiri.
.
"Lama, ya bu," ujar sang mama. "Saya repot kalau pagi. Jadi biar cepet, saya pakaikan sepatu dan kaos kakinya," lanjut beliau.
.
Aku yang mendengar jawaban ini hanya tersenyum kecut.
.
Seandainya si ibu mau bersabar sedikit menemani si anak melewati proses belajarnya, kelak beliau akan sangat terbantu. Karena si anak mampu mandiri melakukan segala hal yang berhubungan dengan dirinya. Tanpa harus dibantu lagi.
.
Tapi... bukankah orang tua mempunyai pilihan sendiri atas cara apa yang akan mereka ambil untuk putra - putrinya?

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer