Antri
Salah satu pembiasaan yang dikenalkan ibu guru di sekolah adalah antri.
Anak - anak diajarkan untuk sabar dengan antrian. Antri saat akan minum.
Antri cuci tangan. Antri memainkan sebuah permainan dan masih banyak
lagi.
.
Selain menjadi budaya yang baik, antri juga menjadi salah satu indikator perkembangan anak pada aspek sosial emosional. Anak mampu bersabar dan terbiasa antri.
.
Karena setiap hari selalu diingatkan untuk antri, maka masing - masing anak akan mengingatkan anak lainnya bila ada yang tidak antri.
.
Berikut cerita hari ini...
.
Rafif tampak rewel, maka untuk menghiburnya, aku mengajak mengambil snack di warung dekat sekolah.
.
Mendapat ajakanku, Rafif bersemangat mengambil sandal dan bergegas menggandeng tanganku.
.
Karena sudah agak siang, warung langganan ini tampak sepi. Kami langsung dilayani oleh sang pemilik. Tak lama datanglah pembeli lain. Menghampiri keranjang yang berisi jajanan pasar. Tiba - tiba...
.
"Antri!" Rafif berteriak seraya mengangkat tangannya. Untuk menghalangi pembeli itu mendahului kami.
.
Waduh... aku jadi tak enak hati. 😊.
.
"Sudah antri kok, Nak," aku mencoba menjelaskan. "Tuh tantenya belum ambil apa - apa kok," lanjutku.
.
"Antri dulu!" Rafif tetep keukeuh meminta si mbak untuk antri.
.
Tampak dia jadi rikuh karena Rafif terus memintanya antri. Padahal dia masih menunggu kami selesai dilayani. Si mbak tidak tahu bahwa yang dimaksud antri oleh Rafif adalah berdiri di belakang kami. Seperti yang selama ini dilakukan di sekolah. Bukan disamping seperti yang saat itu dilakukan si mbak.
.
Agar tidak semakin bikin 'kisruh', aku buru - buru membawa Rafif berlalu dari warung.
.
Rafif, mah gitu. Bikin ibu jadi gimanaaaa...... 😂.
.
Selain menjadi budaya yang baik, antri juga menjadi salah satu indikator perkembangan anak pada aspek sosial emosional. Anak mampu bersabar dan terbiasa antri.
.
Karena setiap hari selalu diingatkan untuk antri, maka masing - masing anak akan mengingatkan anak lainnya bila ada yang tidak antri.
.
Berikut cerita hari ini...
.
Rafif tampak rewel, maka untuk menghiburnya, aku mengajak mengambil snack di warung dekat sekolah.
.
Mendapat ajakanku, Rafif bersemangat mengambil sandal dan bergegas menggandeng tanganku.
.
Karena sudah agak siang, warung langganan ini tampak sepi. Kami langsung dilayani oleh sang pemilik. Tak lama datanglah pembeli lain. Menghampiri keranjang yang berisi jajanan pasar. Tiba - tiba...
.
"Antri!" Rafif berteriak seraya mengangkat tangannya. Untuk menghalangi pembeli itu mendahului kami.
.
Waduh... aku jadi tak enak hati. 😊.
.
"Sudah antri kok, Nak," aku mencoba menjelaskan. "Tuh tantenya belum ambil apa - apa kok," lanjutku.
.
"Antri dulu!" Rafif tetep keukeuh meminta si mbak untuk antri.
.
Tampak dia jadi rikuh karena Rafif terus memintanya antri. Padahal dia masih menunggu kami selesai dilayani. Si mbak tidak tahu bahwa yang dimaksud antri oleh Rafif adalah berdiri di belakang kami. Seperti yang selama ini dilakukan di sekolah. Bukan disamping seperti yang saat itu dilakukan si mbak.
.
Agar tidak semakin bikin 'kisruh', aku buru - buru membawa Rafif berlalu dari warung.
.
Rafif, mah gitu. Bikin ibu jadi gimanaaaa...... 😂.
(Posting : fb)
Komentar