Bau

Ada beragam alasan orang tua menitipkan anaknya di sekolah. Alasan yang paling sering diterima adalah karena ditinggal bekerja kedua orang tuanya.
.
Menyusul alasan berikutnya adalah agar anak dapat bersosialisi dengan teman seusianya. Karena dilingkungan sekitar rumahnya jarang anak seusia mereka. Atau karena memang si anak sulit bergaul dengan anak lain.
.
Selanjutnya adalah karena keinginan si anak sendiri. Karena melihat saudara - saudaranya sekolah, si anak pun ingin juga bersekolah.
.
Ada pula karena alasan si anak mengalami keterlambatan bicara. Dengan memasukkannya ke sekolah dan bertemu dengan teman sebaya, diharapkan dapat merangsang kemampuan bicara anak. Mendengar kosa kata baru dan mengucapkannya.
.
Contohnya Hibri. Diusianya yang sudah lewat 2 tahun, ada banyak kata yang diucapkannya dengan tidak jelas. Sehingga membuat ibu guru harus berpikir keras untuk menemukan apa yang dimaksud olehnya. Karena bila gagal memahami, dia akan melakukan aksi guling - guling dilantai seraya menangis.
.
Namun, Hibri sangat mudah memahami lagu - lagu. Dia biasa menggumamkan nada lagu anak - anak. Dan ibu guru kemudian menyanyikan liriknya mengikuti syair yang digumamkannya.
.
Selain itu, ibu guru juga mengucapkan kata - kata yang biasa terdengar setiap hari, secara berulang. Sehingga Hibri bisa mengikutinya, walau hanya pada suku kata terakhir saja.
.
Berikut ceritanya...
.
"Hibri, ini siapa?" Aku menunjukkan pada Hibri.
.
"Bi.. Bi..," jawabnya.
.
"Iya, pintar. Hibri," aku mengucapkan namanya dengan lengkap. "Kalau ini siapa?" Aku menunjuk diriku sendiri.
.
"A - ut," Hibri menjawab terbata.
.
"Ini Bu Ya - yuk," aku mengeja pelan.
.
"Ba - u," Hibri mengulangi.
.
Lha? Kok gak enak bunyinya.
.
"Bu Ya - yuk," kembali kuulangi.
.
"Ba - u," kali ini Hibri mengulang dengan suara lebih nyaring.
.
Dan aku mengalihkan pada kata lainnya. Karena terlalu menyakitkan bila nanti disebut 'bau' untuk ketiga kalinya. 😂.

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer