Menangis

Hampir dua bulan bergabung di Amalia, tapi Varo tetap saja menangis saat diantar di pagi hari. Ibu guru mengistilahkannya sebagai 'ritual'. Karena menangisnya hanya sesaat saja. Atau lebih tepatnya merengek tak mau turun. Begitu sang ibu berlalu, maka berhenti pula rengekannya.
.
Dan pagi ini....
.
"Ro, sudah deh nangisnya. Ikut ibu ambil snack ajah, yok," aku membujuknya sambil lalu. Karena aku tahu sekali dia akan memilih untuk tetap menangis. Daripada menerima tawaranku. Begitu biasanya.
.
Tapi apa yang terjadi?
.
Varo menghentikan tangisnya. Beranjak ke belakang mengambil sandal. Dan menungguku dipintu kelas. Hal yang menbuatku jadi serba salah.
.
Mengapa?
.
Karena rumah Varo tak jauh dari warung tempat biasanya aku mengambil snack anak - anak. Tak terbayangkan bila kemudian dia berlari pulang ke rumahnya. Bisa panjang, nih urusannya. Sementara aku tak mungkin membatalkan ajakanku. 😁.
.
Maka...
.
"Varo tangannya ibu gandeng, ya," ujarku seraya menggandeng tangan Varo. Lebih tepatnya memegang dengan agak kuat tangannya untuk memastikan dia tak kemana - mana hingga pulang kembali ke sekolah. 😜.

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer