Tangkap saja
Ketika di sekolah, ibu guru mengakui kemampuan 'akting' Bu Yayuk dengan
berencana membuka 'kelas akting' khusus buat anak - anak yang
berpredikat sebagai 'anaknya Bu Yayuk'. 😀.
.
Dan siang ini, aku menjajal kemampuan 'akting' ini dengan 'panggung' yang berbeda...
.
Kriing... Kriing..
Dering suara telpon terdengar disiang bolong. Mbak yang berada di dekat meja telpon, beranjak mengangkatnya. Tak ada suara lain selain suara rintihan dari seberang sana.
.
Langsung bisa ditebak bahwa ini pasti berhubungan dengan penipuan. Maka ketika dering telpon terdengar lagi, gantian aku mengangkatnya.
.
Dengan suara terdengar panik, aku mulai bicara. Dan seseorang diseberang sana tampaknya mulai 'masuk dalam perangkap'. 😊.
.
"Ini Joni, ya?" Tanyaku. Sengaja kusebutkan sebuah nama agar terdengar meyakinkan.
.
Dan suara disana membenarkan seraya menangis, merintih dan sejenisnya. Menceritakan bahwa dia ditangkap polisi karena memakai narkoba. (Alasan yang sudah sangat umum dan tidak kreatif. 😜).
.
"Mama, aku ditangkap polisi. Tolong aku, Ma." Begitulah kiranya rintihan dan tangis yang kudengarkan dengan menahan tawa.
.
Maka, sebuah drama pun dimulai....
.
"Mama khan sudah bilang. Jangan pakai narkoba. Sekarang kalau sudah begini, mama juga yang repot. Jadi anak susah banget dibilangin." Ibarat rentetan peluru, aku melontarkan seribu satu omelan. Tanpa putus. 😃.
.
Tampaknya si Joni merah kupingnya mendengarkan omelanku. Hingga dia mengalihkan gagang telpon pada 'polisi'. Pastinya untuk semakin menambah keyakinan bahwa dia benar - benar ditangkap polisi.
.
Kali ini, giliran 'polisi' yang meyakinkan aku bahwa si 'anak' telah ditangkap dan akan diproses.
.
"Jadi bagaimana, bu? Apakah kasus ini akan diselesaikan secara hukum atau kekeluargaan?" Tawar si 'polisi'.
.
Sudah bisa ditebak khan kemana arahnya?
.
"Sudah, pak. Ditangkap ajah. Silakan bapak kurung selamanya. Saya sudah capek ngurusinnya," jawabku dengan yakin.
.
Dan jawaban ini juga meyakinkan 'pak polisi' bahwa kedoknya telah diketahui. 😂. Dan telpon pun tiba - tiba berbunyi.. tut.. tut.. tut.
.
Pembicaraan telah diakhiri. 😂.
(Posting : fb)
.
Dan siang ini, aku menjajal kemampuan 'akting' ini dengan 'panggung' yang berbeda...
.
Kriing... Kriing..
Dering suara telpon terdengar disiang bolong. Mbak yang berada di dekat meja telpon, beranjak mengangkatnya. Tak ada suara lain selain suara rintihan dari seberang sana.
.
Langsung bisa ditebak bahwa ini pasti berhubungan dengan penipuan. Maka ketika dering telpon terdengar lagi, gantian aku mengangkatnya.
.
Dengan suara terdengar panik, aku mulai bicara. Dan seseorang diseberang sana tampaknya mulai 'masuk dalam perangkap'. 😊.
.
"Ini Joni, ya?" Tanyaku. Sengaja kusebutkan sebuah nama agar terdengar meyakinkan.
.
Dan suara disana membenarkan seraya menangis, merintih dan sejenisnya. Menceritakan bahwa dia ditangkap polisi karena memakai narkoba. (Alasan yang sudah sangat umum dan tidak kreatif. 😜).
.
"Mama, aku ditangkap polisi. Tolong aku, Ma." Begitulah kiranya rintihan dan tangis yang kudengarkan dengan menahan tawa.
.
Maka, sebuah drama pun dimulai....
.
"Mama khan sudah bilang. Jangan pakai narkoba. Sekarang kalau sudah begini, mama juga yang repot. Jadi anak susah banget dibilangin." Ibarat rentetan peluru, aku melontarkan seribu satu omelan. Tanpa putus. 😃.
.
Tampaknya si Joni merah kupingnya mendengarkan omelanku. Hingga dia mengalihkan gagang telpon pada 'polisi'. Pastinya untuk semakin menambah keyakinan bahwa dia benar - benar ditangkap polisi.
.
Kali ini, giliran 'polisi' yang meyakinkan aku bahwa si 'anak' telah ditangkap dan akan diproses.
.
"Jadi bagaimana, bu? Apakah kasus ini akan diselesaikan secara hukum atau kekeluargaan?" Tawar si 'polisi'.
.
Sudah bisa ditebak khan kemana arahnya?
.
"Sudah, pak. Ditangkap ajah. Silakan bapak kurung selamanya. Saya sudah capek ngurusinnya," jawabku dengan yakin.
.
Dan jawaban ini juga meyakinkan 'pak polisi' bahwa kedoknya telah diketahui. 😂. Dan telpon pun tiba - tiba berbunyi.. tut.. tut.. tut.
.
Pembicaraan telah diakhiri. 😂.
(Posting : fb)
Komentar