Ndaud

Mbah Kakung dan Putri dari garis bapak dan ibu, semuanya berasal dari salah satu kota di Jawa Tengah. Tepatnya Kebumen.
.
Berkunjung ke sini, yang pertama kali diingat adalah logat bicaranya. Begitu khas. Kami menamainya dengan logat ngapak.
.
Tak jarang, sesekali mencoba berbicara menggunakan bahasa ngapak. Hasilnya? Tak begitu bagus. 😊.
.
Butuh 'cengkok' tersendiri agar bisa terdengar fasih seperti mereka yang sudah terbiasa dengan logat yang khas ini.
.
Tak hanya logat yang berbeda. Pemahaman sebuah kata pun bisa berbeda.
.
Seperti ini...
.
Disebuah kunjungan kami ke tanah kelahiran bapak, salah satu keponakan beliau datang menemui..
.
"Masmu mana?" Tanya bapak kepada mbak sepupu. Menanyakan suaminya.
.
"Ke sawah, Paklik. Lagi ndaud," jawab mbak sepupu. .
Ndaud adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyingkat makna kata puasa daud. Sehari berpuasa. Sehari tidak. Berselang - seling.
.
Masya Allah. Aku berucap dalam hati. Bahkan saat puasa daud pun beliau masih bisa ke sawah. Tak terbayang teriknya matahari. Semoga diberikan kemudahan dalam menjalani puasanya. Begitu doaku dalam diam.
.
"Alhamdulillah. Rajin puasa daudnya," ujar bapak.
.
Mbak sepupu tampak terkejut dengan pernyataan bapak. Dan segera mengoreksi, "Bukan puasa daud, Paklik. Tapi ndaud."
.
Beliau kemudian menjelaskan makna ndaud yang dimaksudnya. Yaitu proses pengambilan benih padi yang dilakukan secara manual.
.
Mendengar penjelasan ini, sontak saja kami tertawa terbahak atas kesalahpengertian ini. 😂. Tapi setidaknya aku sudah berprasangka baik.

Komentar

Postingan Populer