Wedang Uwuh

Tidak seperti ibu yang lebih mudah menerima jenis makanan atau minuman baru yang disajikan, maka sebaliknya untuk bapak. Lebih pilih - pilih. Dan cenderung enggan untuk mencoba.
.
Tak jarang kami harus membujuk dan meyakinkan bapak untuk mencoba sesuatu yang baru.
.
Bahkan menggunakan jurus pamungkas. 'Berbohong' alias tidak memberitahukan secara spesifik bahan makanan atau minuman yang disajikan. Sampai bapak mencobanya terlebih dahulu. Barulah kemudian akan diberitahu komposisi makanan atau minuman yang telah dicicipi itu. 😆.
.
Tapi tidak kali ini..
.
"Ibu mau nyobain wedang uwuh?" Tanyaku disuatu pagi.
.
Wedang uwuh adalah minuman khas Jogja. Terdiri dari dedaunan. Pala, cengkeh, kayu secang, jahe. Dan pemanisnya menggunakan gula batu.
.
Diseduh menjadi satu menggunakan air panas. Sehingga memenuhi gelas dan terkesan seperti 'sampah'. Itu sebabnya dinamakan wedang uwuh (sampah). 😀.
.
Cita rasanya pedas dari jahe dan segar dedaunan. Pas diminum saat musim hujan seperti saat ini.
.
Kami biasa membeli wedang uwuh ini di pasar tradisional dekat rumah. Dikemas dalam bungkus plastik dengan harga murmer. 😊.
.
"Wedang uwuh? Bapak mau," jawab bapak tiba - tiba. .
Tumben, nih? Mungkin karena wedang uwuh yang kuseduh kali ini berasal dari kemasan yang berbeda. Dalam botol cantik. Souvenir pernikahan, pemberian seorang teman. 😀.
.
Maka, kuberikanlah segelas wedang uwuh yang masih mengepulkan uap panas.
.
"Masih panas lho, Pak," aku memberitahu.
.

Bapak pun mencobanya sesendok. Sepertinya menikmati. Karena kulihat bapak mengulangi lagi. Menyendokkan minuman berwarna merah ini.
.
"Seger, ya Pak," ujarku.
.
"Enak lagi kalau dingin. Pakai es," jawab bapak.
.
Lha?
.
"Kalau wedang itu artinya minuman panas, Pak. Kalau pakai es, jadinya bukan wedang lagi," aku menjelaskan sambil tertawa lebar.
.
Bapak, mah ada - ada saja. 😂.

(Posting : ig)

Komentar

Postingan Populer