Nama Panggilan
Ketika di sekolah, ibu guru 'berkuasa penuh' untuk memberikan nama
panggilan anak - anak. Bahkan bila perlu 'mengganti' nama panggilan yang
biasa diperdengarkan pada anak saat di rumah. 😆.
Pertimbangannya?
Pertimbangannya?
Tidak ada pertimbangan khusus. Penggantian nama bisa terjadi kapan saja dan juga mengalir begitu saja.
Seperti Khalisa.
Di rumah, ia dipanggil Shifa. Tapi saat di sekolah, ibu guru memilih memanggil nama depannya. Khalisa. Namun, ketika dia 'membuat masalah' dengan teman - teman, maka aku akan memanggilnya Kirana.
Ketiga panggilan itu, ada pada nama panjangnya. Akibat begitu banyaknya nama yang disematkan pada Khalisa, Nathan pun sempat bingung saat akan memanggil Khalisa. Sebegitu bingungnya, sehingga dia memanggil Karina. Gabungan dari panggilan Khalisa dan Kirana. 😂.
Lain lagi dengan Canayya.
Di rumah, dia dipanggil Cancan. Mendengar panggilan ini, yang terbayang oleh ibu guru adalah Sinchan. 😀. Dan ibu guru 'tidak suka'. Maka nama panggilannya pun diganti menjadi Canayya. Dan terakhir, karena terlalu 'lelah' memanggil dengan nama panjang, ibu guru cukup memanggilnya 'Nay' saja. Terdengar lebih enak ditelinga ibu guru. 😊.
Hal yang sama, juga dilakukan pada Madarik.
Di rumah dia dipanggil Qiu. Sebuah nama panggilan yang tak terkait sama sekali dengan nama lengkap yang dimilikinya.
Lagi - lagi, ibu guru 'tidak suka'. Maka dipakailah panggilan Ariq untuknya. Dan sesekali dia dipanggil dengan Madarik.
Kembali, ibu guru sukses membuat bingung anak lainnya. Kali ini, Isa yang menggantinya menjadi Arip. Dan terjadilah 'eyel - eyelan' antara Isa dan mamanya tentang siapa sebenarnya nama temannya ini. 😁.
Tampaknya, ibu guru memiliki kegemaran baru. Membuat bingung muridnya.
(Posting : fb)

Komentar