Hand Phone
Berbeda dengan ibu guru yang lain, maka tugasku di sekolah lebih banyak berhubungan dengan handphone.
Aku diberi tugas untuk menjadi penghubung antara sekolah dan orang tua. Bila ada sesuatu yang terjadi pada anak – anak, maka aku harus sigap menyampaikan pada orang tua. Misal, ketika ada anak yang mendadak sakit. Atau, bila ada anak yang lama tidak masuk sekolah, maka menjadi tugasku untuk bertanya kabar tentang si anak.
Aku juga harus bisa menyampaikan dengan baik, kebijakan yang dibuat oleh sekolah pada orang tua. Juga pengumuman atau pemberitahuan tentang kegiatan sekolah. Menempatkan diri sebagai ‘jembatan penghubung’. Agar komunikasi antara sekolah dan orang tua dapat terjalin dengan harmonis.
Dilain waktu, aku harus siap menjawab keluh kesah atau pertanyaan orang tua seputar anaknya. Baik saat di rumah atau ketika berada di sekolah. Mencoba untuk memberikan solusi atas kendala yang dihadapi orang tua saat bersama anak – anak. Berbagi pengalaman ketika menemukan kendala yang sama di sekolah.
Dan semua komunikasi itu banyak menggunakan handphone. Bila handphone ibu guru lainnya hanya dilihat sesekali saja, maka khusus untukku, handphone akan lebih sering lagi dilihat. Mengecek pesan – pesan yang masuk dan langsung memberikan respon atas pesan – pesan tersebut. Aku membiasakan diri untuk secepat mungkin memberikan balasan atas pesan yang masuk. Agar orang tua merasa tenang dan tidak khawatir atas keberadaan anaknya di sekolah.
Tidak cukup hanya disekolah, saat di rumah pun aku harus siap dihubungi oleh orang tua. Tentunya untuk banyak keperluan juga. Misalnya bertanya tentang kegiatan anak – anak di sekolah atau berkonsultasi tentang tumbuh kembang putra – putrinya. Bila dapat kujawab langsung, maka aku akan segera memberi balasannya. Namun bila tidak, maka aku akan menghubungi ibu guru lainnya untuk mendapatkan jawaban yang akurat.
Tugas lain yang diembankan kepadaku dan masih berhubungan dengan handphone yaitu mengabadikan setiap kegiatan anak – anak dalam bentuk video. Dan melaporkannya pada orang tua sebagai bentuk laporan kegiatan harian anak.
Jadi, setiap hari di sekolah, anak – anak belajar dan bermain dengan beragam kegiatan. Setiap kegiatan ini didokumentasikan dalam bentuk video. Dengan durasi yang singkat – singkat saja. Sekitar 1 – 2 menit. Video ini merekam tingkah polah anak – anak serta kemajuan perkembangan belajar mereka.
Kemudian video - video ini akan di unggah di “saluran televisi” milik sekolah yang ada di Youtube. Dibagikan ke orang tua. Tujuannya agar orang tua dapat juga merasakan keseruan kegiatan belajar anak – anak. Walau tidak bersama mereka.
Selain itu, dengan menyaksikan video kegiatan belajar dan bermain ini, maka orang tua dapat memiliki ‘bahan’ untuk bertanya pada anak tentang kegiatan mereka selama di sekolah. Hal ini berguna untuk melatih kemampuan berbahasa anak. Melihat kemampuan untuk menceritakan kembali pengalaman yang pernah mereka alami sebelumnya.
Karena terbiasa melihatku memegang handphone untuk mengambil gambar kegiatan anak – anak, maka tak heran bila kemudian ada di antara mereka yang begitu luwes tampil di depan kamera handphone. Begitu melihat lampu kamera menyala, mereka langsung beraksi.
Seperti Thifa...
“Thifa, ayo ditempel gambarnya!” ajak ibu guru pada Thifa.
Tapi Thifa tampak acuh saja. Mengabaikan ajakan ibu guru. Dia asyik sendiri dengan jari jemarinya yang berwarna warni setelah tadi bermain mengecap jari.
“Thifa, ayo,” ibu guru kembali mengajaknya.
Thifa kembali tidak menggubris ajakan ibu guru. Dia justru asyik sendiri dengan kertas – kertas yang seharusnya dilem dan ditempel.
Tak lama kemudian, aku datang menghampiri untuk mengambil gambar kegiatan belajar di kelas Thifa. Dan apa yang terjadi?
Melihatku mulai mengarahkan kamera padanya dan lampu yang sudah mulai menyala, Thifa langsung bergegas mengambil lem dan menempelkan gambar yang tadi dibiarkannya. Mengelem satu persatu. Seperti yang diperintahkan ibu guru. Tak lupa selama berkegiatan ini, sesekali Thifa tersenyum manis di depan kamera handphoneku.
Ternyata.... Thifa sangat sadar kamera!!
Namun, ada juga yang sebaliknya. Ketika aku sudah mengarahkan kamera, maka si anak langsung ‘mati gaya’. Tak dapat berkata – kata. Pucat. Semua kata seakan hilang tak tentu rimbanya. Entah kemana.
Seperti Fathir...
“Fathir, Ibu ambil gambarnya, ya,” ujarku seraya mengaktifkan kamera handphone. “Fathir cerita tentang bangunan balok ini,” aku menambahkan.
Saat itu, Fathir sudah selesai dengan bangunan baloknya. Dan aku bersiap untuk mengabadikan kegiatan belajarnya hari itu. Ketika kamera sudah mengarah pada wajahnya, aku mulai memberikan pertanyaan seputar hasil karya Fathir.
Namun apa yang terjadi?
Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Fathir terdiam. Hanya memandangiku yang memegang kamera. Tak keluar satu kata pun dari mulutnya. Pertanyaanku seperti tak didengarnya. Aku putus asa. Hingga akhirnya bantuan pun datang, dari ibu guru.
Aku segera beranjak meninggalkan Fathir. Mencari posisi berdiri ditempat yang tidak jauh darinya. Melakukan zoom – in, zoom – out pada kamera dan mulai mengambil gambar ibu guru yang bertanya pada Fathir tentang karyanya. Fathir menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan. Tanpa dia tahu bila aku sudah merekam semua ‘wawancara’ ini. Dan ... taraaaa... Aku berhasil mengabadikan ceritanya dalam rekaman kamera handpone.
(Salah satu tulisan dalam buku Pena Sang Pengajar - Antologi Esai Guru PAUD Yogyakarta tahun 2019)
Komentar