Antri

Kami - aku dan mbak - biasa berbagi tugas untuk memastikan bapak ibu tetap sehat diusia senja. Aku mengatur jadwal kontrol ke rumah sakit. Sementara mbak yang mengantar dan menemani keduanya bertemu dengan dokter.
.
Pekan ini adalah jadwal ibu bertemu dengan dokter ganteng yang biasa memeriksa beliau. Namun karena ada pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan, maka aku menggantikan mbak, menemani ibu periksa di Kamis besok.
.
Seperti biasanya, rumah sakit tempat ibu memeriksakan diri, memberikan quota pasien poli penyakit dalam sebanyak 90 pasien. 55 quota diberikan untuk pasien yang mendaftar sebelum hari H. Sedangkan sisanya sebanyak 35 quota, disiapkan untuk pasien yang mendaftar di hari H.
.
Karena penasaran lantaran kemarin ditolak untuk periksa pada hari ini, maka pagi Subuh mbak berangkat ke rumah sakit. Niatnya untuk mendapatkan antrian quota pada hari ini.
.
"Gak kepagian, mbak?" Tanyaku saat mbak sudaj bersiap, ketika Subuh baru saja berlalu. "Ntar masih sepi lho."

"Gak pa pa. Biar nunggu dulu disana," jawab mbak. Dan segera beranjak pergi.
.
Satu jam berlalu, mbak pulang dengan membawa cerita yang membuatku de javu. .
Sesampainya di rumah sakit, ternyata sudah penuh dengan para pengantri. Sementara waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi. .
Saat antrian dibagikan, dengan sangat 'menyesal', mbak harus rela nomer antrian berakhir pada dua orang sebelumnya. 😁. Maka mbak pun pulang dengan tangan kosong.
.
Namun dia sempat berbincang dengan sesama pengantri lainnya, yang mendapat nomer antrian pada hari ini. Ternyata beliau datang sebelum Subuh. Sementara pengantri lain yang mendapat nomer antrian 5, beliau datang pada pukul 12 malam!! 😆.
.
Itu berarti, bila ingin mendapat antrian nomer satu, harus sudah berada di rumah sakit satu hari sebelumnya. Atau cara paling aman, mencari menantu satpam rumah sakit. Biar bisa diambilkan nomer antrian. 😜.
.
Sehat terus ibu.....

(Posting : ig)

Komentar

Postingan Populer