Pusing

Pagi hari, sebelum memulai kegiatan belajar di kelas masing - masing....

"Anakku, sepatu dan sandalnya boleh dibawa masuk ke dalam," perintahku. "Boleh juga bawakan sepatu dan sandal ibu guru."

Maka satu persatu anak membawa alas kakinya ke halaman belakang, untuk disusun dirak yang telah disediakan.

Beberapa saat kemudian, aku masih melihat sepasang sandal warna merah....

"Madarik, sandalnya belum dibawa masuk," aku memberi tahu.

Mendengar namanya dipanggil, Madarik melihat ke arahku. Tapi tidak beranjak untuk mengambil alas kakinya. (Tidak salah juga, sih. Khan bunyi kalimatnya adalah pemberitahuan. 😁).

"Madarik, silakan bawa sandalnya ke dalam," kali ini aku memberi perintah. "Tolong bantu, bawakan sepatu ibu guru juga, ya," satu perintah lagi kutambahkan.

Kali ini, Madarik segera beranjak dari keasyikannya bermain. Berjalan ke pintu kelas, dimana alas kakinya berada.

Dan waktu berlalu sekitar 5 menit, ternyata aku masih melihat sandal Madarik berada ditempat semula. Sementara sepatu ibu guru sudah tidak ada lagi.

"Madarik, sandalnya kok belum dibawa masuk?" tanyaku pada Madarik yang sudah kembali bermain dengan pasang bongkarnya.

"Bu Yayuk terlalu banyak perintahnya," sahut ibu guru dari belakang. "Madarik cuma ingat perintah yang terakhir."

Dan aku tersenyum setelah menyadari kesalahanku. Diusia Madarik yang baru saja lewat 2 tahun, seharusnya aku hanya memberikan satu perintah saja dalam satu pesan yang bersamaan. Kalau lebih, bisa membuat jadi pusing. Pesanpun tak sampai. 😂.

Komentar

Postingan Populer