Mood

Di suatu malam, menjelang liburan sekolah....
"Dek, liburan mau ngapain?" Tiba - tiba mbak muncul di depan pintu kamarku.
.
"Mang da pa?" Tanyaku. (Artinya : memang ada apa = bhs. Tarzan) 😀.
.
"Mbak punya bahan belum dijahit, tuh," jawabnya seraya mengembangkan senyum lebar.
.
Aku tidak menyahut. Tapi tahu maksudnya.
.
Jadi, selama ini, selain menjahit baju untuk diri sendiri, mbak adalah satu - satunya 'pelanggan'ku. Lantaran cuma dia yang 'rela, ikhlas dan pasrah' menerima hasil jahitanku tanpa komplain. 😁.
.
Jadi, saat akan memulai menjahit, aku selalu mengandalkan 'mood'. Bila tidak sedang ingin menjahit, maka dipaksakan seperti apapun, idenya tak pernah akan muncul. Dan mbak tahu sekali. Itu sebabnya, dia tidak pernah minta yang aneh - aneh saat ingin dibuatkan baju. .
Namun bila karena suatu alasan harus menjahit, maka aku harus mendatangkan idenya sesegera mungkin. Caranya? Sebelum mulai menjahit, aku akan menggelar bahan yang akan dibuat baju, layaknya menggelar tikar. Kupandangi saja. Untuk kemudian ditinggalkan. Dan nanti kembali dipandangi lagi, dipegang sana sini. Seakan memanggil ide agar segera datang menghampiri. 😊. Proses ini bisa berlangsung beberapa saat saja. Tapi bisa juga berhari - hari. .
Bahkan pernah suatu kali, saat ide tak kunjung juga hadir, aku membiarkan saja bahan ini tergelar di mushola rumah. Hingga kemudian..
.
"Dek, itu bahannya masih lama di gelarnya?" Tanya bapak.
.
"Gak tahu," jawabku tidak yakin. "Kenapa, Pak?"
.
"Bapak mau sholatnya susah."
.
Aku tidak menyahut lagi. Tapi langsung melipat bahan yang menutupi setengah bagian mushola. Pantas saja bapak kesulitan mencari tempat untuk sholat. Karena selain bahan yang tergelar, juga ada peralatan jahit menjahit yang turut membuat sempit mushola.
.
Yaaa... dimaapin, ya Pak..
(Posting : ig)
Komentar