Kambing Sobek
Mengajak
anak untuk suka pada buku sejak kecil, menjadi kegiatan wajib di
sekolah. Menjelang tidur siang, mereka dibebaskan untuk mengambil
sendiri buku di rak. Boleh dilihat - lihat saja isi bukunya. Atau minta
dibacakan cerita oleh ibu guru.
Beberapa anak bahkan memilih untuk berkelompok dan membuat 'diskusi' sendiri tentang isi buku yang mereka pilih. Bila diskusinya 'memanas', ibu guru akan menengahi agar suasana kembali dingin. 😊.
Selain mengajak suka pada buku, anak - anak diajarkan juga cara merawat dan memperlakukan buku dengan benar. Bagaimana cara memegang buku, membuka - buka halamannya, menyimpan kembali ke tempat semula. Juga menjaga agar buku tidak disobek.
Sebelum mengenalkan pada buku, tentu saja ibu guru membuat aturan - aturan yang mudah dipahami anak dan didengungkan setiap saat. Sehingga diantara mereka sendiri bisa saling mengingatkan. Tanpa ibu guru mengawasinya.
Bila terjadi 'pelanggaran', tentunya ada hukuman yang harus diterima. Yaitu tidak boleh mengambil buku pilihan di rak selama satu pekan. Namun si anak masih tetap bisa membaca buku dengan cara turut melihat isi buku pilihan teman. Atau mendengarkan cerita yang dibacakan ibu guru.
Pelanggaran yang sering sekali dilakukan anak - anak adalah menyobek buku dengan sengaja. Sehingga ibu guru harus 'mereparasi'nya dengan cara menyambung kembali lembar - lembar halaman yang sobek menggunakan selotip. Dan itu hampir setiap hari. 😃.
Maka.... inilah ceritanya....
"Bu, mbek," ujar Kiki seraya menghampiri ibu guru.
"Kambing. Bukan mbek, Ki," ibu guru mengoreksi Kiki.
Di sekolah, anak - anak diajarkan untuk menyebutkan nama hewan. Bukan bunyinya.
"Ini mbek, Bu," kembali Kiki berkata sambil menunjuk buku yang dipegangnya.
"Kambing, Kiki. Ayo sebutkan nama hewannya," ibu guru kembali mengingatkan.
"Mbek, Bu," untuk ketiga kalinya Kiki berkata hal yang sama.
Untuk ketiga kalinya pula ibu guru mengoreksi.
Hingga kemudian...
"Bu, itu mau nunjukin bukunya sobek," salah satu ibu guru yang tadi membacakan cerita untuk Kiki, angkat bicara.
Aku yang sedari tadi mendengarkan percakapan ibu guru dan Kiki, langsung tergelak. Bunyinya terdengar sama. Tapi maksudnya jauh banget. 😂.
(Posting : fb)
Beberapa anak bahkan memilih untuk berkelompok dan membuat 'diskusi' sendiri tentang isi buku yang mereka pilih. Bila diskusinya 'memanas', ibu guru akan menengahi agar suasana kembali dingin. 😊.
Selain mengajak suka pada buku, anak - anak diajarkan juga cara merawat dan memperlakukan buku dengan benar. Bagaimana cara memegang buku, membuka - buka halamannya, menyimpan kembali ke tempat semula. Juga menjaga agar buku tidak disobek.
Sebelum mengenalkan pada buku, tentu saja ibu guru membuat aturan - aturan yang mudah dipahami anak dan didengungkan setiap saat. Sehingga diantara mereka sendiri bisa saling mengingatkan. Tanpa ibu guru mengawasinya.
Bila terjadi 'pelanggaran', tentunya ada hukuman yang harus diterima. Yaitu tidak boleh mengambil buku pilihan di rak selama satu pekan. Namun si anak masih tetap bisa membaca buku dengan cara turut melihat isi buku pilihan teman. Atau mendengarkan cerita yang dibacakan ibu guru.
Pelanggaran yang sering sekali dilakukan anak - anak adalah menyobek buku dengan sengaja. Sehingga ibu guru harus 'mereparasi'nya
Maka.... inilah ceritanya....
"Bu, mbek," ujar Kiki seraya menghampiri ibu guru.
"Kambing. Bukan mbek, Ki," ibu guru mengoreksi Kiki.
Di sekolah, anak - anak diajarkan untuk menyebutkan nama hewan. Bukan bunyinya.
"Ini mbek, Bu," kembali Kiki berkata sambil menunjuk buku yang dipegangnya.
"Kambing, Kiki. Ayo sebutkan nama hewannya," ibu guru kembali mengingatkan.
"Mbek, Bu," untuk ketiga kalinya Kiki berkata hal yang sama.
Untuk ketiga kalinya pula ibu guru mengoreksi.
Hingga kemudian...
"Bu, itu mau nunjukin bukunya sobek," salah satu ibu guru yang tadi membacakan cerita untuk Kiki, angkat bicara.
Aku yang sedari tadi mendengarkan percakapan ibu guru dan Kiki, langsung tergelak. Bunyinya terdengar sama. Tapi maksudnya jauh banget. 😂.
(Posting : fb)
Komentar