Hujan

Pagi yang mendung hari ini. Awan tampak berwarna abu - abu. Bila terus menebal, maka mendung ini akan membuat pagi menjadi basah di kota kami.

Dan aku, tengah bersama anak - anak. Di depan ruang kelas. Memandang ke langit luas. Berbincang tentang salah satu gejala alam ini..

"Wah, mataharinya tertutup awan, Nak," aku memulai perbincangan kami.

"Awannya abu - abu, Bu Yayuk," Nathan memberi tahu.

"Sebentar lagi hujan, ya Bu?" Atma bertanya.

"Belum tentu, Nak. Bila ada angin yang meniup awan mendung itu, bisa saja hujannya gak jadi turun," aku menjelaskan. 'Bukankah mendung tak berarti hujan?' Aku melanjutkan dalam hati. 😜.

"Hujan ciptaan siapa, sih?" Aku mulai mengenalkan anak - anak pada Sang Pencipta.

"Allah," kompak anak - anak menjawab.

"Bagaimana caranya hujan turun, Bu," kali ini Isa yang bertanya.

"Awannya, tuh diperas. Trus turun, deh hujannya," sebuah suara menyahut. Yang pasti bukan suaraku. Karena ketika aku memalingkan wajah, ada Khalisa yang tersenyum dengan manisnya. Tatapan matanya seakan berkata, "Benar khan, Bu jawabanku?"

Sesaat aku terdiam untuk kemudian tergelak. Karena membayangkan awan yang diperas layaknya pakaian basah yang siap dijemur.

Khalisa ada - ada ajah... 😂.

(Posting : f b)

Komentar

Postingan Populer