Percaya

Saat di sekolah, sering sekali terjadi 'salah paham' antara ibu guru dan muridnya. Ada beberapa hal yang menyebabkannya.

Seperti si anak yang bicaranya masih belum jelas, sehingga ibu guru menangkap maksudnya menjadi tidak jelas juga. Atau karena ibu guru sedang 'kehilangan' konsentrasi, sehingga ketika si anak berkata 'A', ibu guru mendengarnya 'B'. 😊.

Dilain waktu, bisa juga karena suasana kelas yang riuh, membuat suara anak yang terdengar ditelinga tidak jelas dan ibu guru kembali menangkap makna yang salah. Atau anak - anak pemalu, yang suaranya sangat lirih, membuat ibu guru hanya bisa membaca gerak bibir dan ujung - ujungnya, (juga) salah mengartikan. 😁.

Maka, inilah ceritanya...

Siang menjelang sore, ketika ibu guru mulai membangunkan anak - anak dari tidur siang, aku menyiapkan snack sore untuk mereka. Hana yang sudah bangun sedari tadi, tampak sibuk mengikutiku yang sedang mengambil gunting untuk membuka kemasan biskuit.

"Ayuk, Hana aya," ujarnya dibelakangku.

"Hana percaya sama ibu? Terima kasih," jawabku dengan menyertakan senyum manis. Walau sebenarnya aku tidak paham dengan maksud 'percaya'nya Hana. Karena saat itu aku tengah berkonsentrasi menggunting bungkus biskuit. 

"Hana percaya apa?" tanyaku sambil berjalan keluar. Sementara Hana masih tetap mengikuti setiap gerakanku.

"Ayuk, Hana empu aya," ujarnya lagi.

"Oalah.. Hana dijemput ayah?" aku mencoba mengulangi kalimat yang dimaksud Hana. Karena saat itu, aku sudah selesai meletakkan biskuit di piring. Sehingga mulai bisa berkonsentrasi dengan ucapan Hana. 

"Iya, Ayuk," angguknya senang.

"Tiwas ibu ge-er, Han. Kirain Hana percaya sama ibu," aku 'nggrundel' sendiri. 😂.

Komentar

Postingan Populer