Kaki Kuda
Ibu
guru di sekolah, tidak mengajarkan calistung pada anak - anak. Tapi
mengenalkan bunyi dan lambang angka dan huruf saat mereka bermain.Seperti ini...
"Bu Yayuk, aku bikin kuda." Nathan menunjukkan sebuah bentuk yang disusunnya menggunakan pasang bongkar.
Di sekolah, ibu guru memotivasi anak untuk percaya diri pada hasil karya yang mereka buat sendiri. Caranya dengan berani menunjukkan pada teman dan ibu guru. Serta bercerita tentang karyanya.
"Oya? Kuda? Pintar lho, Nathan. Sudah bisa bikin bentuk kuda," pujiku. "Ini apa, Than?" Aku melanjutkan dengan pertanyaan seraya menunjuk 3 buah bentuk persegi panjang dibagian bawah 'kuda' yang dibuatnya.
Kegiatan ibu guru bertanya tentang karya seorang anak adalah sebuah kegiatan 'wajib'. 😊. Karena melalui proses bertanya ini, anak dapat belajar mengungkapkan sesuatu menggunakan bahasa yang tepat. Juga melatih mereka untuk mampu mengungkapkan ide dan pendapatanya tentang karya yang dibuat. Dan yang pasti, anak merasa dihargai. Karena kemampuannya.
"Ini kakinya," jawab Nathan.
.
"Kaki kuda ada berapa, sih?"
"Empat."
"Coba hitung kaki kuda yang Nathan bikin."
"Satu, dua, tiga."
"Ada berapa?"
"Empat?" Jawabnya seraya menunjukkan kelima jari tangan kanan. 😁.
"Coba ulangi."
"Satu, dua, tiga."
.
"Jadi berapa?" Tanyaku dengan senyum terkembang.
"Dua."
Berkurang lagi, nih kaki kudanya. 😁.
Aku pun meminta Nathan mengulangi menghitung kaki kuda yang dibuatnya.
"Satu, dua, tiga."
"Ada berapa kaki kuda yang Nathan bikin?"
"Tiga."
Alhamdulillah. Akhirnya bisa tepat juga jawabannya. 😂.
"Nathan sudah pintar lho bikin bentuk kudanya. Tapi kaki kuda ada empat. Coba Nathan buatkan satu lagi kaki kudanya," aku mengakhiri sesi bertanya dengan memberikan usul.
Bagaimana? Bukankah begitu menyenangkan bermain bersama anak - anak? 😉.
(Posting : ig)
Komentar