Telinga

Thifa adalah anak yang istimewa. Terlahir normal. Namun saat dalam usia bulanan, Allah mengambil pendengarannya. Sehingga Thifa tidak dapat mendengar dan berbicara.

Beberapa waktu lalu, orang tua Thifa memasangkan alat bantu dengar. 
Di masa - masa awal menggunakan alat ini, Thifa tampak lebih pendiam. Mungkin karena merasa asing dengan suara - suara yang masuk ke telinganya. Dia juga menjadi lebih rewel. Berkali - kali minta dilepas alat bantu dengarnya. Mungkin lantaran risih, ya.

Saat di sekolah, alat bantu dengar ini dipasangkan hingga menjelang tidur siang. Setelah itu akan dilepas. Sesuai dengan pesan dari sang mama.

Dan inilah cerita hari ini...

"Thifa, telinganya dilepas dulu," aku memanggil Thifa dengan suaraku yang memang sudah memiliki ketinggian 1 oktaf dari yang lain. Dan mungkin karena itu pula, ketika aku memanggilnya, Thifa lebih sering merespon dengan menoleh. Dibandingkan ketika ibu guru yang lain memanggilnya.

Thifa memalingkan wajahnya padaku. Tapi tidak segera beranjak.

"Sini. Kita lepas dulu telinganya," Kali ini aku berkata dengan lebih pelan seraya menggunakan gerakan tangan untuk menyatakan maksudku.

Tampaknya Thifa masih asyik dengan mainannya, maka kuulangi lagi panggilan padanya seraya tetap menggantikan baju anak lainnya.

"Thifa, ayo. Telinganya di lepas dulu."

Karena tidak juga menghampiriku, akhirnya salah satu ibu guru turun tangan.

Sambil mengantarkan Thifa kepadaku, Ibu guru berseloroh, "Tega banget, Bu Yayuk. Telinga Thifa dilepas."

Sontak aku tertawa geli. Soalnya kalau harus bilang 'alat bantu dengar', terlalu panjang. Malah repot. 😂.

Komentar

Postingan Populer