Menangis

Begini 'doktrin'nya
Menangislah untuk hal - hal yang penting - penting saja. Bila tidak penting, tidak usah menangis. 😉.

Yang penting apa? Misalnya sakit. Kalau yang tidak penting? Ketika berangkat sekolah tidak dibelikan jajanan oleh ayah atau ibu.

Dan inilah ceritanya.....

Disuatu pagi yang cerah, saat matahari sudah bersinar tidak lagi hangat, anak - anak mulai berdatangan ke sekolah. Keramaian pun hadir seiring dengan keberadaan mereka. Dan bertambah ramai lagi ketika Khalisa datang dengan diantar ayah. Karena dia hadir dengan membawa tangisan dari sejak diatas kendaraan.

Melihat dari suara tangisnya, juga bahasa tubuh dan raut wajah sang ayah, maka ibu guru menyimpulkan, pasti karena keinginan Khalisa untuk membeli sesuatu, tidak dipenuhi oleh sang ayah. Dan itu benar adanya. 😊.

Setelah sang ayah berlalu, ibu guru segera membawa Khalisa ke halaman belakang.

Jadi, di sekolah, anak - anak diperbolehkan menangis. Tapi tidak diruang kelas. Melainkan di halaman belakang. Ibu guru sudah menyiapkan kursi disana. Dan si anak boleh menangis sepuasnya. 

Mengapa tidak boleh di dalam kelas?

Karena suara tangisnya akan mengganggu teman lainnya yang sedang bermain atau belajar. Selain itu, malu khan kalau dilihat temannya menangis? 😉.

Maka Khalisa pun didudukkan di kursi. Masih dengan menangis. Sesekali ada teriakan di sana.

Mengapa ibu guru tidak membujuknya?

Setiap hari bersama anak - anak di sekolah, membuat ibu guru sudah sangat hafal. Mana suara tangis yang harus dibujuk. Dan mana yang cukup didengarkan saja. Dan tangis Khalisa pagi ini, cukup didengarkan saja.

"Khalisa boleh menangis. Di sini. Bila sudah selesai menangisnya, Khalisa boleh masuk ke dalam," ibu guru memberi pesan sebelum meninggalkan Khalisa.

Dan terdengar lagi suara teriakan, tangisan beserta 'omelan' Khalisa mengiringi air mata yang deras berjatuhan. Hingga beberapa saat kemudian...

"Bu Yayuk, aku sudah selesai nangisnya," ujar Khalisa. Memang tak terdengar lagi suara tangisnya. Sepertinya sudah lelah.

"Beneran sudah selesai, nih? Sudah capek?" Tanyaku. Meminta kepastian. 😀.

Tidak menjawab. Khalisa hanya mengganggukkan kepala. Aku pun mengijinkannya masuk kembali ke kelas. Setelah sebelumnya memberikan sebuah pelukan. 

Jadi... Menangis yang gak penting, tuh bikin capek, ya Khal...😂.

Komentar

Postingan Populer