Kira - Kira
Ini cerita tentang betapa serunya belajar dengan para ahli di bidangnya... 
Ibunya ibu yang biasa aku panggil mbah putri, adalah chef terbaik (menurutku) yang pernah ada. Beliau mewariskan dengan adil keahlian memasak beserta resep - resep andalan pada semua putrinya dan sebagian putranya yang berjumlah 14 orang.
Ilmu andalan mbah putri dalam memasak adalah ilmu kira - kira. Semua bahan tidak memiliki ukuran pasti seperti berapa gram, berapa butir atau berapa mililiter. Semua hanya kira - kira saja. Tapi hasilnya tak terkira lezatnya.
Selama ini, aku mengenal resep beliau dari ibu. Ibu yang mengajari rahasia - rahasia masakan milik mbah putri. Awalnya, ibu juga mengenalkan ilmu kira - kira ini. Tapi setelah sering aku protes, akhirnya ibu mengalah. Ketika akan membuat sesuatu, bahan kira - kira itu akan diukur, ditimbang jadi berapa gram atau berapa sendok oleh ibu. Sehingga ketika mencatatnya, aku jadi tahu dengan pasti. Maklumlah, 'senjata'ku saat memasak adalah timbangan, gelas ukur dan 'teman - temannya'.
Dan beberapa waktu lalu, aku berkesempatan untuk belajar warisan mbah putri ini dari adik - adiknya ibu yaitu bulek - bulekku.
Berbeda dengan
ibu, bulek - bulekku ini masih murni menggunakan ilmu kira - kira. Dan
inilah yang terjadi saat aku belajar membuat pempek dari nasi.
"Bul, untuk ukuran nasi yang segini, bumbunya seberapa banyak?" Tanyaku sambil menunjuk nasi yang sudah menjadi bubur di panci.
"Dikira - kira saja," jawab bulekku.
"Kira - kiranya gimana?" Aku penasaran.
"Kira - kira sudah pas," jawab bulekku lagi. Tambah gak jelas, nih.
"Kira - kira pas itu yang gimana, bul?" Aku terus mengejar. Meminta kepastian.
"Ya dikira - kira," bulekku mantap menjawab. Dan akupun 'pingsan'.
(Kira - kira besok aku bisa membuat sendiri gak, ya?)
(Posting : fb)
Komentar