Cireng

Pagi ini, sepulang dari dari olah raga jalan pagi...

"Dek, bapak minta cireng," ujar mbak. Memberi tahu.

Jadi, bapak tuh, tidak pernah bilang makanan apa yang beliau sukai. Tapi, bila ketika dibuatkan sesuatu dan kemudian minta dibuatkan lagi, itu berarti bapak suka. 😊.

Misalnya, cireng ini. Bapak tidak pernah bilang kalau suka cireng. Tapi bila aku lama tidak membuat cireng, bapak akan menanyakan.

Maka, setelah sejenak beristirahat, aku pun segera beranjak ke dapur. Menyiapkan bahan - bahannya. Memproses dan tidak membutuhkan waktu lama, cireng ala kami pun siap disajikan hangat. 

"Cirengnya sudah siap, nih," aku membuat pengumuman pada seisi rumah.

Satu - persatu penghuni rumah keluar dari kamarnya. Keponakanku yang tengah liburan dari pondok, adik besar yang khusus datang dari luar kota dan bapak yang baru selesai berkebun.

"Ini cireng atau gejos?" adik besar bertanya. Lebih tepatnya 'protes' ketika melihat cireng buatanku. 😀.

Gejos adalah salah satu makanan tradisional yang biasa kami jumpai saat berkunjung ke tanah kelahiran bapak di Jawa Tengah. (Kalau penasaran, silakan browsing, ya..)

"Gak usah protes! Makan ajah," aku menjawab.

Kami pun menyantap cireng ini bersama - sama. Menggunakan cuka pempek. Begitulah biasanya kami makan cireng. Ibarat kata pepatah... Tak ada pempek, cireng pun jadi. 😂. Tidak sampai 10 menit, cireng ini sudah ludes habis dimakan. Dan tak ada yang tahu bila aku membuatnya dengan menggunakan 'telur ular' hasil temuan ibu di kebun belakang. 😜. (Masih ingatkan ceritanya? 😊)

Komentar

Postingan Populer