Selasar
Beberapa tahun belakangan ini mendampingi bapak - ibu untuk tetap sehat,
membuatku lebih sering keluar masuk rumah sakit di kota ini. Gak cuma
satu tapi beberapa.Karena selain dokter bapak ibu yang berbeda. Juga karena tindakan medis yang harus diambil pun tak jarang dilakukan di rumah sakit yang berbeda.
Setiap kali memasuki masing - masing rumah sakit ini, aku sudah sangat hafal dengan lingkungan dan situasinya.
Jadi ketika di rumah sakit A, maka aku harus bersiap bila harus menunggu antrian panjang karena banyaknya pasien.
Bila di rumah sakit B, mungkin sedikit lebih nyaman. Karena pasiennya lebih sedikit dan suasana rumah sakitnya yang mirip - mirip hotel. Wangi dan luas banget. Wangi harum ruangannya tidak seperti bau aroma ruma sakit. (Paham khan seperti apa bau rumah sakit?
Berbeda lagi dengan rumah sakit C, dimana suasananya masih terlihat rada gersang lantaran belum lama dibangunnya.
Daaan.. beberapa rumah sakit lainnya.
Tapi tahukah? Yang 'paling aku suka' dengan bangunan rumah sakit? Selasarnya!..
Ada rumah sakit dengan selasar yang panjang dan sempit. Ketika malam mulai datang, cahayanya tidak merata di sepanjang selasar. Yang membuat khayalan melayang tentang film - film bergenre horor.
Ada lagi rumah sakit yang selasarnya pendek - pendek saja. Karena menyesuaikan dengan bentuk bangunannya yang tidak begitu besar. Sehingga selasarnya pun di buat sehemat mungkin.
Daaannn.. inilah selasar yang 'kusuka'. Selasar dari sebuah rumah sakit di kota ini. Yang luas banget. Panjang banget. Berjalan di selasarnya membuatku seakan menempuh sebuah perjalanan panjang untuk mencari sebuah kesembuhan.
Sebuah jalan panjang yang seakan tak berujung. Walau sesungguhnya ada akhir perjalanan di sana. Dan sepanjang apapun jalan itu, harus tetap ditempuh bila ingin mengetahui akhir seperti apa dari sebuah perjalanan.
Dalem gak?
Komentar