Sampah Berharga
Pagi hari..
"Hai Cantik. Wow.. keren banget. Baju baru, nih," sapaku ramai pada Khalisa pagi ini.
Khalisa tidak menjawab. Hanya melirik sekilas padaku. (Kacian, deh. 😁). Dia tampak asyik dengan sesuatu di tangannya.
"Hai Cantik. Wow.. keren banget. Baju baru, nih," sapaku ramai pada Khalisa pagi ini.
Khalisa tidak menjawab. Hanya melirik sekilas padaku. (Kacian, deh. 😁). Dia tampak asyik dengan sesuatu di tangannya.
"Apa itu Khal?" Tanyaku tanpa menghiraukan sambutannya tadi.
"Kartuku," jawabnya sambil tetap memandangi sesuatu yang dipegangnya.
"Oya? Boleh ibu lihat?"
"Ini. Tolong," Khalisa mengangsurkan sebuah bungkusan dengan gambar kuda poni. Dia minta dibukakan.
Aku menyobek bungkusan dan memberikan kartu - kartu bergambar. Bermacam gambar. Ada princess, kuda poni. Juga hello kitty.
Tanpa berucap terima kasih, Khalisa langsung mengambil kartunya dari tanganku.
"Bilang apa Khal?" Aku mengingatkan.
"Terima kasih," senyumnya.
"Sama - sama. Ini bungkusnya dibuang ke tempat sampah, ya," aku memberikan bungkus yang telah tersobek.
"Jangan! Itu punyaku," Khalisa segera merebut sobekan bungkus kartunya. "Aku simpan di tas."
"Itu khan sampah. Dibuangnya ke tempat sampah dong. Masa ditaruh di tas. Nanti tasnya kotor. Penuh dengan sampah," panjang lebar aku memberi 'ceramah'.
Apa yang terjadi?
Ibu guru yang mendengar, tertawa geli.
"Bu Yayuk gak tahu, nih. Kemarin Ayah dibikin malu gara - gara Khalisa marah. Bungkus permennya dibuang. Trus Khalisa ribut. Minta diambil lagi," cerita salah satu ibu guru.
Oalah.... pantesan aku menemukan banyak sampah di saku tasnya. Bagi Khalisa, sampah pun berharga. Terlebih sampah yang mengandung kuda poni. 😀.
(Posting : fb)
"Kartuku," jawabnya sambil tetap memandangi sesuatu yang dipegangnya.
"Oya? Boleh ibu lihat?"
"Ini. Tolong," Khalisa mengangsurkan sebuah bungkusan dengan gambar kuda poni. Dia minta dibukakan.
Aku menyobek bungkusan dan memberikan kartu - kartu bergambar. Bermacam gambar. Ada princess, kuda poni. Juga hello kitty.
Tanpa berucap terima kasih, Khalisa langsung mengambil kartunya dari tanganku.
"Bilang apa Khal?" Aku mengingatkan.
"Terima kasih," senyumnya.
"Sama - sama. Ini bungkusnya dibuang ke tempat sampah, ya," aku memberikan bungkus yang telah tersobek.
"Jangan! Itu punyaku," Khalisa segera merebut sobekan bungkus kartunya. "Aku simpan di tas."
"Itu khan sampah. Dibuangnya ke tempat sampah dong. Masa ditaruh di tas. Nanti tasnya kotor. Penuh dengan sampah," panjang lebar aku memberi 'ceramah'.
Apa yang terjadi?
Ibu guru yang mendengar, tertawa geli.
"Bu Yayuk gak tahu, nih. Kemarin Ayah dibikin malu gara - gara Khalisa marah. Bungkus permennya dibuang. Trus Khalisa ribut. Minta diambil lagi," cerita salah satu ibu guru.
Oalah.... pantesan aku menemukan banyak sampah di saku tasnya. Bagi Khalisa, sampah pun berharga. Terlebih sampah yang mengandung kuda poni. 😀.
(Posting : fb)
Komentar