Cium Tangan
Ketika
bermain di sekolah, anak - anak dibiasakan untuk meminta ijin kepada
temannya, bila akan meminjam mainan yang sedangkan dimainkan. Bila
temannya tidak memperbolehkan,
maka si anak harus belajar sabar. Menunggu hingga temannya selesai
memainkan mainan yang diinginkan dan mengembalikan ke tempat semula.
Begitu teorinya. 😊
Namun pada prakteknya, tentu saja ada hal - hal yang berbeda. Seperti mengambil mainan dengan paksa alias merebut. Atau mengambil mainan teman dan mengakui sebagai miliknya.
Kejadian - kejadian yang akhirnya diputuskan bahwa anak yang bersalah, harus meminta maaf pada temannya.
Syarat sahnya permintaan maaf ini adalah dengan mencium tangan teman yang telah 'tersakiti'. Seraya mengucapkan kata 'maaf'. Jadi, kedua syarat itu harus dilaksanakan secara bersamaan. Bila hanya satu saja, maka permohonan maaf harus di ulang. 😂.
Dan... inilah ceritanya...
"Mbak Yayuk, Hana ambil mainan Dedek," lapor Azel padaku di siang ini.
Mereka berdua tengah bermain pasang bongkar secara berdampingan. Dengan keranjang mainan masing - masing. Azel keranjang warna merah. Sedangkan Hana, warna biru.
Dan itu berarti, kemungkinan tanpa sengaja mengambil pasang bongkar milik teman, sangat besar. Karena asyik membentuk sesuatu, tanpa sadar tangan pun mengambil mainan dari keranjang milik teman. 😊.
"Hana salah ambil pasang bongkar," aku memberi tahu Hana. "Itu punya Azel," lanjutku.
Hana yang merasa bila pasang bongkar itu miliknya, tampak acuh saja. Dan meneruskan mainnya. Pemberitahuanku diabaikan. 😀.
Sementara Azel sudah mbrebes mili. Hingga akhirnya ibu guru menghampiri Hana seraya menunjukkan keranjang biru miliknya.
"Sekarang, Hana minta maaf sama Azel, ya," aku mengingatkan, setelah dia mengembalikan pasang bongkar milik Azel.
Hana langsung meraih tangan Azel, menggenggamnya dan berkata, "Maaf."
"Cium tangan Azel," ujarku mengingatkan Hana.
Apa yang terjadi?
Belum juga Hana meraih kembali tangan Azel, ternyata Azel sudah menciumi tangannya sendiri. Spontan saja, aku dan ibu guru membalikkan badan, menahan tawa melihat adegan ini. 😂.
(Posting : fb)
Namun pada prakteknya, tentu saja ada hal - hal yang berbeda. Seperti mengambil mainan dengan paksa alias merebut. Atau mengambil mainan teman dan mengakui sebagai miliknya.
Kejadian - kejadian yang akhirnya diputuskan bahwa anak yang bersalah, harus meminta maaf pada temannya.
Syarat sahnya permintaan maaf ini adalah dengan mencium tangan teman yang telah 'tersakiti'. Seraya mengucapkan kata 'maaf'. Jadi, kedua syarat itu harus dilaksanakan secara bersamaan. Bila hanya satu saja, maka permohonan maaf harus di ulang. 😂.
Dan... inilah ceritanya...
"Mbak Yayuk, Hana ambil mainan Dedek," lapor Azel padaku di siang ini.
Mereka berdua tengah bermain pasang bongkar secara berdampingan. Dengan keranjang mainan masing - masing. Azel keranjang warna merah. Sedangkan Hana, warna biru.
Dan itu berarti, kemungkinan tanpa sengaja mengambil pasang bongkar milik teman, sangat besar. Karena asyik membentuk sesuatu, tanpa sadar tangan pun mengambil mainan dari keranjang milik teman. 😊.
"Hana salah ambil pasang bongkar," aku memberi tahu Hana. "Itu punya Azel," lanjutku.
Hana yang merasa bila pasang bongkar itu miliknya, tampak acuh saja. Dan meneruskan mainnya. Pemberitahuanku
Sementara Azel sudah mbrebes mili. Hingga akhirnya ibu guru menghampiri Hana seraya menunjukkan keranjang biru miliknya.
"Sekarang, Hana minta maaf sama Azel, ya," aku mengingatkan, setelah dia mengembalikan pasang bongkar milik Azel.
Hana langsung meraih tangan Azel, menggenggamnya dan berkata, "Maaf."
"Cium tangan Azel," ujarku mengingatkan Hana.
Apa yang terjadi?
Belum juga Hana meraih kembali tangan Azel, ternyata Azel sudah menciumi tangannya sendiri. Spontan saja, aku dan ibu guru membalikkan badan, menahan tawa melihat adegan ini. 😂.
(Posting : fb)
Komentar