Mengalah
Seharian
memakai kacamata, terkadang lelah juga. Apalagi saat harus berada di
depan laptop. Itu sebabnya aku sesekali melepas kacamata ketika sedang
menyelesaikan tugas. Seperti juga pagi ini.
Aku meletakkan kacamataku begitu saja. Di kursi. Tapi apa yang terjadi?
Thifa tiba - tiba datang menghampiriku dengan 'keributan' nya. Dia menunjuk - nunjuk kacamataku.
Thifa diberi kekhususan. Tidak bisa mendengar dan berbicara. Komunikasi yang selama ini dilakukan dengannya adalah menggunakan bahasa isyarat. Dan ibu guru menambahkan ucapan yang menyertai gerakan - gerakan isyarat itu. "Kenapa, Thifa?" Tanyaku.
Dia menunjuk kacamata kemudian menunjuk ke arahku. Thifa memintaku untuk memakai kacamata lagi. "Ibu capek. Kacamatanya memang ibu lepas," aku menjelaskan.
Thifa meletakkan jari telunjuknya di depan dada seraya menggerakkannya ke kiri dan kanan. Disertai dengan gelengan kepala.
Itu artinya dia tidak setuju. Thifa tetap menginginkan aku memakai kacamata kembali. "Capek, Thifa. Ibu gak pakai kacamata dulu. Nanti dipakai lagi," ujarku.
Daaaannn.... Thifa 'marah'. Dia tidak beranjak dari depanku. Menarik - narik tanganku untuk kembali memakai kacamata.
Oklah...Aku pilih mengalah. Daripada tugasku tidak selesai lantaran 'ribut' dengan Thifa. Segera aku memakai kembali kacamataku. Dan Thifa bertepuk tangan dengan riang seraya mengacungkan jempol padaku. 😂.
Aku meletakkan kacamataku begitu saja. Di kursi. Tapi apa yang terjadi?
Thifa tiba - tiba datang menghampiriku dengan 'keributan' nya. Dia menunjuk - nunjuk kacamataku.
Thifa diberi kekhususan. Tidak bisa mendengar dan berbicara. Komunikasi yang selama ini dilakukan dengannya adalah menggunakan bahasa isyarat. Dan ibu guru menambahkan ucapan yang menyertai gerakan - gerakan isyarat itu. "Kenapa, Thifa?" Tanyaku.
Dia menunjuk kacamata kemudian menunjuk ke arahku. Thifa memintaku untuk memakai kacamata lagi. "Ibu capek. Kacamatanya memang ibu lepas," aku menjelaskan.
Thifa meletakkan jari telunjuknya di depan dada seraya menggerakkannya ke kiri dan kanan. Disertai dengan gelengan kepala.
Itu artinya dia tidak setuju. Thifa tetap menginginkan aku memakai kacamata kembali. "Capek, Thifa. Ibu gak pakai kacamata dulu. Nanti dipakai lagi," ujarku.
Daaaannn.... Thifa 'marah'. Dia tidak beranjak dari depanku. Menarik - narik tanganku untuk kembali memakai kacamata.
Oklah...Aku pilih mengalah. Daripada tugasku tidak selesai lantaran 'ribut' dengan Thifa. Segera aku memakai kembali kacamataku. Dan Thifa bertepuk tangan dengan riang seraya mengacungkan jempol padaku. 😂.
(Posting : ig)

Komentar