Original
Ada sebuah kebiasaan yang sama, yang dimiliki kedua keponakanku, saat
mereka liburan dari pondok. Mereka akan membuat 'daftar makanan' yang
wajib di makan di rumah.
Mulai dari pizza sampai seblak. Dari mie ayam sampai mie instant. Semua
daftar makanan itu harus dipenuhi sebelum mereka kembali ke pondok.
Semakin mendekati waktu kepulangan, maka keributan antara mereka dan
ibunya alias mbakku semakin memuncak. Keributan untuk membelikan makanan
yang ada di daftar.
.
Dan inilah salah satu cerita tentang makanan dalam daftar mereka...
"Hai kalian. Ntar sahur mau makan mie instant gak?" Aku memberi tawaran
pada mereka berdua, disuatu malam Ramadhan lalu.
"Mau!.. Mau!" Kompak
mereka menyahut.
"Dua, ya bul," pinta keponakan yang bungsu.
"Iya. Dua
untuk berdua," jawabku.
"Gak mau! Dua untuk sendiri. Bukan berdua,"
giliran si sulung yang protes.
"Ok lah," aku menjawab seraya tersenyum
pada ibu. Sebuah senyuman yang mengandung isyarat.
Jadi... kebiasaan aku dan ibu saat masak mie instant adalah dengan menambahkan mie telor, sayuran, telur dan bumbu lain buatan sendiri. Tujuannya untuk menyamarkan rasa bumbu mie instant yang begitu kuat. Hasilnya adalah mie instant ala kami.
.
Jadi... kebiasaan aku dan ibu saat masak mie instant adalah dengan menambahkan mie telor, sayuran, telur dan bumbu lain buatan sendiri. Tujuannya untuk menyamarkan rasa bumbu mie instant yang begitu kuat. Hasilnya adalah mie instant ala kami.
Tapi apa yang terjadi? "Buleeekkk," panggil keponakan bungsu dari dalam
kamar. "Mie nya original lho", tambahnya. Kali ini dari pintu kamar.
"Original?" Tanyaku pura - pura bingung.
"Iya. Gak mau ditambah - tambah
yang lainnya," kali ini si sulung yang menjelaskan.
Spontan aku dan ibu tertawa bersama. Seraya melangkah kembali ke dapur, aku berbisik pada ibu, "Mereka sudah gede, Bu. Gak bisa dibohongi lagi."
.
Spontan aku dan ibu tertawa bersama. Seraya melangkah kembali ke dapur, aku berbisik pada ibu, "Mereka sudah gede, Bu. Gak bisa dibohongi lagi."
(Posting : fb)
Komentar