Galak

Karena Ramadhan dan Idul Fitri, menyimpan banyak cerita... 😊.. 
 
Setelah lebaran tahun lalu harus mukim di pondok, akhirnya keponakan cantik yang sulung berhasil menamatkan belajarnya di salah satu pesantren putri di daerah Mantingan, Ngawi. Dan Ramadhan tahun ini, kami kembali memiliki formasi lengkap.

Sebagaimana biasanya saat berada di rumah, maka ada banyak cerita tentang kegiatan di pesantren yang  dibagikan. 
 
Salah satunya adalah ini... 
 
"Mbak galak banget kalau di pondok. Temen - temen adek takut sama mbak," begitu cerita keponakan bungsu di salah satu sesi acara kumpul kami. Kedua keponakanku ini belajar di pesantren yang sama.

Di pesantren, si mbak mendapat tugas sebagai 'polisi bahasa'. Sehingga bila ada anak yang tidak menggunakan bahasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tugasnya  lah untuk memberikan sangsi hukuman. 
 
"Galak? Contohnya seperti apa?" Tanyaku penasaran.

Maka meluncurnya cerita panjang dari si adek. Tentang si mbak yang menghukum teman satu kelasnya gara - gara ketahuan menggunakan bahasa daerah. Dengan gaya khasnya, si adek menirukan gaya si mbak saat menghukum temannya. 

Kami yang melihatnya tertawa terpingkal - pingkal. Sementara si mbak protes dan mencoba 'merekonstruksi' ulang apa yang dilakukannya saat menghukum waktu itu. 
 
"Berarti mbak Na galak banget, ya," Aku menegaskan. "Galak mana, sih sama bulek?" Tanyaku pada si adek. 
 
"Ustadzah yang paling galak. Bulek, tuh kalah galak sama ustadzah," si adek memberi pernyataan tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku tertawa senang. Karena 'level' galakku belum seberapa. Aku bisa bilang sama anak - anak di sekolah. Bahwa ada yang lebih galak dari Bu Yayuk. 😂.

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer