Ustadz

Siang menjelang tidur, waktunya anak - anak memilih buku sebagai pengantar tidur.

Tampak Tsaqib tengah dikerumuni beberapa temannya. Ditangannya ada buku tentang tata cara shalat.

Sambil melihat gambar yang ada, Tsaqib memperagakan gerakan shalat di hadapan teman - teman. Disertai dengan keterangan - keterangan yang diberikannya. Sepintas mirip sekali dengan cara ibu guru saat menjelaskan tentang cara shalat di sentra Imtaq.

Usai memperagakan, Tsaqib mengajak teman - temannya untuk praktek bersama. Dia berdiri di depan layaknya seorang imam dalam shalat. Sementara teman lainnya berdiri di belakang. Seakan sebagai makmumnya.

Hingga kemudian...

"Aku ajah yang jadi ustad nya," ujar Afif.

"Gak mau. Tsaqib ajah yang jadi ustadz," sahut Tirta yang diikuti oleh Atma dan Fely.

Keributan kecil terjadi. Beberapa saat kemudian, ketika menemui 'jalan buntu' alias potensi keributan yang lebih besar, ibu guru pun turun tangan. Memberi solusi.

"Afif, kita tanyakan teman - teman, ya. Biar teman - teman yang pilih siapa yang jadi 'ustadz' nya," ibu guru menengahi.

Dan ketika semua teman tetap memilih Tsaqib untuk menjadi 'ustadz' mereka, Afif pun ngambek. Marah. Tidak berkenan. 😊.

Ah Afif.. Semoga kelak keinginanmu untuk menjadi Ustadz, sungguh - sungguh terwujud, Nak. Tapi biarlah sebutan itu diberikan orang lain karena ilmu dan kepandaian yang kau miliki. Bukan karena kau meminta dan memaksa mereka untuk memanggilmu 'Ustadz'.

(Posting : fb)


Komentar

Postingan Populer