Syarat
Cerita Zahra hari ini...
Pagi yang cerah, ketika datang diantar ibu, dia masih ceria. Tapi sesaat kemudian, ketika ibunya akan pergi, jerit tangisnya terdengar.
"Aku mau pulang. Gak mau sekolah," begitu rengeknya.
Sang ibu membujuk dan menunggui beberapa saat. Hingga akhirnya dia setuju berada di sekolah. Tapi...
"Aku gak mau main. Gak mau makan. Gak mau tidur. Gak mau ngapa - ngapain," syaratnya terucap diantara tangis.
Aku dan ibunya menyetujui syarat tersebut.
.
Satu hal yang mungkin tidak diperkirakan olehnya. Karena dengan
menyetujui syarat tersebut, berarti dia tetap berada di sekolah.
Kemudian, adegan beralih dengan Zahra yang kembali menangis.
"Saya ambil, gak papa, Bu?" Tanyaku. Meminta persetujuan.
"Iya. Diambil saja," jawab ibunya.
Dan akupun mengambil Zahra 'secara paksa' dari atas motor.
. Membawanya ke halaman belakang sekolah.
Jadi begini, ibu guru menyiapkan kursi di halaman belakang untuk anak - anak yang menangis. Mereka boleh menangis sepuasnya disana. Tapi tidak di dalam kelas. Karena suara tangisnya itu, akan mengganggu teman lainnya.
Beberapa kali aku mengembalikannya ke kursi belakang, ketika dia masuk ke dalam kelas masih dengan menangis. Memintanya untuk tetap disana hingga menangisnya selesai.
Setengah jam kemudian, tak terdengar lagi suara tangisnya. Aku menghampiri dan bertanya, "Masih ingin menangis?"
Zahra menggelengkan kepala.
"Sekarang Zahra mau masuk ke dalam?"
Dia mengangguk.
Pagi yang cerah, ketika datang diantar ibu, dia masih ceria. Tapi sesaat kemudian, ketika ibunya akan pergi, jerit tangisnya terdengar.
"Aku mau pulang. Gak mau sekolah," begitu rengeknya.
Sang ibu membujuk dan menunggui beberapa saat. Hingga akhirnya dia setuju berada di sekolah. Tapi...
"Aku gak mau main. Gak mau makan. Gak mau tidur. Gak mau ngapa - ngapain," syaratnya terucap diantara tangis.
Aku dan ibunya menyetujui syarat tersebut.
Kemudian, adegan beralih dengan Zahra yang kembali menangis.
"Saya ambil, gak papa, Bu?" Tanyaku. Meminta persetujuan.
"Iya. Diambil saja," jawab ibunya.
Dan akupun mengambil Zahra 'secara paksa' dari atas motor.
Jadi begini, ibu guru menyiapkan kursi di halaman belakang untuk anak - anak yang menangis. Mereka boleh menangis sepuasnya disana. Tapi tidak di dalam kelas. Karena suara tangisnya itu, akan mengganggu teman lainnya.
Beberapa kali aku mengembalikannya ke kursi belakang, ketika dia masuk ke dalam kelas masih dengan menangis. Memintanya untuk tetap disana hingga menangisnya selesai.
Setengah jam kemudian, tak terdengar lagi suara tangisnya. Aku menghampiri dan bertanya, "Masih ingin menangis?"
Zahra menggelengkan kepala.
"Sekarang Zahra mau masuk ke dalam?"
Dia mengangguk.
Dan aku membawanya ke dalam untuk bermain dengan teman - teman. Tak terlihat lagi bekas - bekas tangisan dan jeritan yang tadi terdengar, saat dia sudah bermain dan bercanda dengan teman - teman.
Maka, pagi ini pun kembali diwarnai dengan tawa ceria khas anak - anak
(Posting : fb)
Komentar