Kebelet
Di sekolah, ibu guru sudah sangat terbiasa dengan anak - anak yang
menangis. Yang menangisnya tidak berhenti. Yang ingin menangis terus.
Yang tidak bisa dibujuk.
Menemui yang seperti ini, ibu guru akan mendiamkan saja. Membiarkan si anak puas menangisnya. Diberikan tempat khusus untuk menangis. Yaitu kursi di halaman belakangan sekolah.
Mengapa?
Karena ibu guru sangat yakin, menangis seperti apapun, pasti akan ada lelahnya. Dan berhenti dengan sendirinya.
Sedangkan diberikan tempat yang terpisah, agar suara tangisnya tidak mengganggu teman lainnya.
Ibu guru hanya membutuhkan telinga yang lebih 'betah' mendengarkan suara tangis yang berkepanjangan.
Seperti ini...
Pagi hari saat turun dari kendaraan, Putri sudah menangis. Sang ibu tetap membawanya masuk ke sekolah.
"Ini minta jajan dulu, Bu. Gak dibelikan, jadinya menangis," cerita si ibu.
Itu biasa sekali. Sebelum sekolah, Putri selalu memberikan 'syarat'. Bila tidak dipenuhi, seperti inilah. Menangis. 😊.
"Saya ambil saja, Bu?" Tanyaku.
Sang ibu menyetujui. Maka aku pun mengambilnya dari gendongan dan Putri pun meronta - ronta. Menangis. Menjerit.
Kududukan dia di belakang dengan tangisannya yang masih terdengar. Tidak kubujuk. Karena begitulah Putri. Bila dia ingin menangis, maka bujukan apapun tak mampu menghentikannya.
Hingga beberapa waktu kemudian...
"Aku mai pipis," ujarnya di sela isak tangis.
Aku pun membawanya ke kamar mandi. Dan setelah itu, tangisnya berhenti. Dia main bersama teman - teman lagi.
"Oalah, Put. Tadi nangisnya karena kebelet, ya," gurau ibu guru. 😂.
Menemui yang seperti ini, ibu guru akan mendiamkan saja. Membiarkan si anak puas menangisnya. Diberikan tempat khusus untuk menangis. Yaitu kursi di halaman belakangan sekolah.
Mengapa?
Karena ibu guru sangat yakin, menangis seperti apapun, pasti akan ada lelahnya. Dan berhenti dengan sendirinya.
Sedangkan diberikan tempat yang terpisah, agar suara tangisnya tidak mengganggu teman lainnya.
Ibu guru hanya membutuhkan telinga yang lebih 'betah' mendengarkan suara tangis yang berkepanjangan.
Seperti ini...
Pagi hari saat turun dari kendaraan, Putri sudah menangis. Sang ibu tetap membawanya masuk ke sekolah.
"Ini minta jajan dulu, Bu. Gak dibelikan, jadinya menangis," cerita si ibu.
Itu biasa sekali. Sebelum sekolah, Putri selalu memberikan 'syarat'. Bila tidak dipenuhi, seperti inilah. Menangis. 😊.
"Saya ambil saja, Bu?" Tanyaku.
Sang ibu menyetujui. Maka aku pun mengambilnya dari gendongan dan Putri pun meronta - ronta. Menangis. Menjerit.
Kududukan dia di belakang dengan tangisannya yang masih terdengar. Tidak kubujuk. Karena begitulah Putri. Bila dia ingin menangis, maka bujukan apapun tak mampu menghentikannya.
Hingga beberapa waktu kemudian...
"Aku mai pipis," ujarnya di sela isak tangis.
Aku pun membawanya ke kamar mandi. Dan setelah itu, tangisnya berhenti. Dia main bersama teman - teman lagi.
"Oalah, Put. Tadi nangisnya karena kebelet, ya," gurau ibu guru. 😂.
(Posting : fb)
Komentar