Horor
Olga pilihanku adalah jalpag alias jalan pagi. . Dan aku biasa melakukannya saat matahari belum lagi menampakkan semburat warnanya. Yang itu berarti, hari masih gelap.
Rute jalan pagiku tidak jauh. Hanya dijalan seputaran rumah saja. Namun karena masih ada beberapa lahan kosong yang belum dibangun, membuat beberapa ruas jalan masih gelap. Lantaran belum ada penerangan nya.
Jadi pilihan rute kemana pun, aku pasti akan menemukan tempat yang lebih gelap dibandingkan lainnya.
Aku gak takut gelap, sih. . Cuma kalau ada jalan yang terang, lebih baik itu yang dipilih. Atau pun kalau harus melintas di jalan yang gelap, setidaknya ada pejalan kaki lainnya yang melintas. 😜.
Dan ini lah ceritanya..
Pagi itu, seperti biasanya, aku memulai jalan pagi. Baru keluar dari pagar rumah, aku sudah mulai berpapasan dengan pejalan kaki lainnya. Seperti biasa, berbagi senyuman dan saling sapa secukupnya.
Saat sampai di sebuah lahan kosong, di jalan yang agak gelap, dikejauhan aku melihat bayangan putih melambai - lambai. Tidak hanya satu tapi dua!!
Takut? Gak sih. Cuma males ajah kalau harus bertemu yang 'menakutkan'. 😁.
Kembali? Rasanya tidak mungkin. Aku pasti akan beriringan dengan bayang - bayang putih itu. Meneruskan langkah, aku pasti akan berpapasan. Jadi? Mundur kena. Maju kena.
Solusinya? Merapalkan semua bacaan - bacaan yang kuingat. Sambil meyakinkan dalam hati bahwa itu hanya ilusi semata.
Hingga kemudian...
"Assalamu'alikum, mbak," sebuah sapaan terdengar.
"Wa alaikum salam," jawabku.
Kiranya, dua bayangan putih tadi adalah dua orang ibu yang jalan pagi seusai pulang shalat subuh di masjid dekat rumah.
Dalam hati aku protes sendiri. 'Kalau jalan pagi jangan pakai mukena dong, bu. Bikin horor yang ngeliat'. 😂.
Rute jalan pagiku tidak jauh. Hanya dijalan seputaran rumah saja. Namun karena masih ada beberapa lahan kosong yang belum dibangun, membuat beberapa ruas jalan masih gelap. Lantaran belum ada penerangan nya.
Jadi pilihan rute kemana pun, aku pasti akan menemukan tempat yang lebih gelap dibandingkan lainnya.
Aku gak takut gelap, sih. . Cuma kalau ada jalan yang terang, lebih baik itu yang dipilih. Atau pun kalau harus melintas di jalan yang gelap, setidaknya ada pejalan kaki lainnya yang melintas. 😜.
Dan ini lah ceritanya..
Pagi itu, seperti biasanya, aku memulai jalan pagi. Baru keluar dari pagar rumah, aku sudah mulai berpapasan dengan pejalan kaki lainnya. Seperti biasa, berbagi senyuman dan saling sapa secukupnya.
Saat sampai di sebuah lahan kosong, di jalan yang agak gelap, dikejauhan aku melihat bayangan putih melambai - lambai. Tidak hanya satu tapi dua!!
Takut? Gak sih. Cuma males ajah kalau harus bertemu yang 'menakutkan'. 😁.
Kembali? Rasanya tidak mungkin. Aku pasti akan beriringan dengan bayang - bayang putih itu. Meneruskan langkah, aku pasti akan berpapasan. Jadi? Mundur kena. Maju kena.
Solusinya? Merapalkan semua bacaan - bacaan yang kuingat. Sambil meyakinkan dalam hati bahwa itu hanya ilusi semata.
Hingga kemudian...
"Assalamu'alikum, mbak," sebuah sapaan terdengar.
"Wa alaikum salam," jawabku.
Kiranya, dua bayangan putih tadi adalah dua orang ibu yang jalan pagi seusai pulang shalat subuh di masjid dekat rumah.
Dalam hati aku protes sendiri. 'Kalau jalan pagi jangan pakai mukena dong, bu. Bikin horor yang ngeliat'. 😂.
(Posting : fb)
Komentar