Kue Lumpang
Lahir, tumbuh, besar dan lebih dari separuh usia di habiskan di tanah
Sumatera, membuat ibu begitu lekat dengan makanan dan masakan sumatera.Walau sudah belasan tahun kembali ke tanah Jawa, kami tetap saja bisa menikmati masakan Sumatera. Karena ibu masih sering membuat makanan dengan cita rasa pedas, gurih dan yang pastinya lezat.
Seperti tekwan, pempek, rendang. Dan salah satu kue andalan ibu, kue lumpang.
Diantara semua resep kue dan masakan yang ibu miliki, menurutku, kue lumpang ini adalah yang tersulit. Karena menggunakan ilmu kira - kira 'tingkat dewa'.
Jadi begini...
Salah satu bahan yang diperlukan untuk membuat kue lumpang adalah kapur sirih.
Dimasukkan ke dalam adonan agar terbentuk lubang ditengah. Yang membuatnya mirip lumpang. Itu sebabnya dinamai kue lumpang. Dan saat dihidangkan, diberi parutan kelapa dibagian lubangnya.
Kapur sirih ini harus diberikan dalam komposisi yang pas. Karena bila kebanyakkan akan membuat lubangnya terlalu dalam sehingga bentuknya gak bagus. Sedangkan kalau terlalu sedikit, lubangnya tidak terbentuk. Dan itu juga membuat kue nya menjadi tidak cantik.
Dan beginilah yang terjadi kemudian, disuatu hari...
"Kapur sirihnya seberapa, Bu?" Tanyaku suatu kali.
"Sedikit ajah," jawab ibu.
"Sedikitnya seberapa?"
"Seujung kuku."
"Segini?" Tanyaku lagi seraya menunjukkan ujung kuku jari kelingkingku.
"Ya gak segitu. Dikira - kira ajah."
"Kira - kiranya seberapa?"
"Ya pake perasaan ajah. Kalau kira - kira perasaannya sudah pas, ya sudah. Jangan ditambahin lagi," ibu memberikan penjelasan panjang lebar.
Nah... mulai pusing, deh. Karena sudah mulai keluar 'resep kira - kira yang pakai perarasaan'.
Hingga akhirnya, sampai saat ini, ketika ibu membuat kue lumpang, aku hanya bertindak sebagai 'asisten' saja.
(Posting : fb)
Komentar