Bungkuuuusss
Ibu terlahir dari sebuah keluarga besar. Empat belas bersaudara. Seayah,
seibu. Mungkin karena besarnya jumlah anggota keluarga itu, maka mbah
kakung putri berpesan pada anak keturunannya untuk selalu rukun, menjaga
silaturahim dan persaudaraan.
Beliau mewanti - wanti kami agar yang tua menyayanyi yang muda. Serta yang muda menghormati yang tua.
Memenuhi keinginan beliau berdua, sekitar awal tahun 2000-an dibentuklah sebuah perkumpulan yang diberi nama Ikatan Keluarga Marso. Disingkat IKM. Marso adalah nama mbah Kakung.
Anggota ikatan ini adalah anak mantu mbah Marso yang kami namai G1. Kemudian cucu dan cucu mantu yang digelari G2. Serta cicit - cicit yang diistilahkan dengan G3. Huruf 'G' di depan masing - masing angka bermakna 'generasi'.
Setiap 5 tahun, anggota IKM ini berkumpul disuatu tempat. Acara ini dirancang jauh - jauh hari, agar sebagian besar anggota dapat menghadiri acara akbar yang kami namai 'reuni'.
Selain itu, khusus untuk IKM Jogja, kami memiliki jadwal rutin pertemuan setiap bulan. Tempatnya bergiliran di rumah G1 yang berdomisili di Jogja.
Layaknya sebuah acara kumpul - kumpul lainnya, maka makan - makan menjadi menu utamanya. 😀.
Untuk hidangannya ini, masing - masing anggota akan membawa makanan, yang kemudian dimakan bersama. Dan makanan ini selalu ada lebihnya. Sehingga saat pulang, selalu pula ada buah tangan yang dibawa. 😊.
Bila datang hanya membawa satu macam makanan. Maka saat pulang, bisa membawa beragam makanan lainnya.
Dan aku selalu kebagian acara 'bungkus - membungkus' ini. Setiap anggota yang akan pulang 'wajib' lapor padaku. Agar dapat membawa pulang oleh - oleh. Itu sebabnya pertanyaan seperti 'punya saya mana, mbak Yay?' atau 'dek Yay sudah selesai blom bungkusnya?' menjadi pertanyaan yang selalu terdengar di akhir pertemuan. 😀.
Silaturahim berjalan,
hati senang,
pulang membawa buah tangan,
hati riang.
Itu mungkin motto yang tepat di setiap pertemuan kami. 😂.
Semoga saja usaha kami untuk terus menjaga silaturahim ini menjadi amal yang terus mengalir untuk mbah kakung putri.
Beliau mewanti - wanti kami agar yang tua menyayanyi yang muda. Serta yang muda menghormati yang tua.
Memenuhi keinginan beliau berdua, sekitar awal tahun 2000-an dibentuklah sebuah perkumpulan yang diberi nama Ikatan Keluarga Marso. Disingkat IKM. Marso adalah nama mbah Kakung.
Anggota ikatan ini adalah anak mantu mbah Marso yang kami namai G1. Kemudian cucu dan cucu mantu yang digelari G2. Serta cicit - cicit yang diistilahkan dengan G3. Huruf 'G' di depan masing - masing angka bermakna 'generasi'.
Setiap 5 tahun, anggota IKM ini berkumpul disuatu tempat. Acara ini dirancang jauh - jauh hari, agar sebagian besar anggota dapat menghadiri acara akbar yang kami namai 'reuni'.
Selain itu, khusus untuk IKM Jogja, kami memiliki jadwal rutin pertemuan setiap bulan. Tempatnya bergiliran di rumah G1 yang berdomisili di Jogja.
Layaknya sebuah acara kumpul - kumpul lainnya, maka makan - makan menjadi menu utamanya. 😀.
Untuk hidangannya ini, masing - masing anggota akan membawa makanan, yang kemudian dimakan bersama. Dan makanan ini selalu ada lebihnya. Sehingga saat pulang, selalu pula ada buah tangan yang dibawa. 😊.
Bila datang hanya membawa satu macam makanan. Maka saat pulang, bisa membawa beragam makanan lainnya.
Dan aku selalu kebagian acara 'bungkus - membungkus' ini. Setiap anggota yang akan pulang 'wajib' lapor padaku. Agar dapat membawa pulang oleh - oleh. Itu sebabnya pertanyaan seperti 'punya saya mana, mbak Yay?' atau 'dek Yay sudah selesai blom bungkusnya?' menjadi pertanyaan yang selalu terdengar di akhir pertemuan. 😀.
Silaturahim berjalan,
hati senang,
pulang membawa buah tangan,
hati riang.
Itu mungkin motto yang tepat di setiap pertemuan kami. 😂.
Semoga saja usaha kami untuk terus menjaga silaturahim ini menjadi amal yang terus mengalir untuk mbah kakung putri.
(Posting : fb)

Komentar