"Ancaman"
Sepuluh tahun bersama anak - anak di sekolah, membuat aku tahu 'ancaman'
apa yang mereka terima di rumah dan menakutkan bagi mereka.
.
Diperingkat pertama adalah polisi.
Orang tua sering sekali menggunakan polisi sebagai ancaman saat anak - anak melakukan sesuatu yang mereka labeli dengan 'nakal'.
Salah satu bunyi ancaman itu adalah 'kalau nakal, nanti ditangkap polisi lho'.
Hasilnya? Sukses sekaleeee...
Ketika di sekolah ada petugas polisi mampir untuk sebuah keperluan, beberapa anak langsung pucat, memegang erat tangan ibu guru, terdiam seribu bahasa.
Diperingkat kedua adalah dokter atau rumah sakit.
Ancaman ini dipakai biasanya saat anak - anak tidak mau makan atau tidak bisa diam. Bergerak ke sana ke mari.
Bunyi ancamannya adalah 'kalau gak mau makan, nanti sakit. Disuntik pak dokter'. Atau 'kalau jatuh nanti dibawa ke rumah sakit lho'.
Hasilnya? Juga sukses.
Saat sakit sungguhan, jadi takut diperiksa ke rumah sakit atau bertemu dokter. Padahal, tidak semua sakit pasti di suntik lho.
Tapi bagi anak - anak, membayangkan jarum suntik yang runcing menusuk kulitnya, sudah sangat menakutkan.
Dan di peringkat ketiga, ancaman yang hanya ada di sekolah Amalia, yaitu Bu Yayuk.
Ancaman ini dipakai sesuka - sukanya wali murid saja.
Ketika ada anak yang tidak mau makan, maka bunyi ancamannya adalah 'mama telponin Bu Yayuk, nih' sambil pura - pura angkat telpon.
Atau ketika si anak sedang rewel, susah diatur (menurut ortu), maka ancamannya adalah 'ntar ibu bilangin Bu Yayuk'.
Hasilnya? Yaaa gitu, deh. Sukses juga.
.
Tapiiiiii.... aku tidak khawatir. Mereka hanya takut pada nama saja. Tidak dengan orangnya.
.
Karena setiap hari ketika datang ke sekolah, mereka masih tetap menghambur ke pelukanku, masih bermain dan bercanda, juga tidak pucat saat berjumpa.
Jadi...
Seharusnya tidak gunakan apapun untuk mengancam anak - anak.
.
Diperingkat pertama adalah polisi.
Orang tua sering sekali menggunakan polisi sebagai ancaman saat anak - anak melakukan sesuatu yang mereka labeli dengan 'nakal'.
Salah satu bunyi ancaman itu adalah 'kalau nakal, nanti ditangkap polisi lho'.
Hasilnya? Sukses sekaleeee...
Ketika di sekolah ada petugas polisi mampir untuk sebuah keperluan, beberapa anak langsung pucat, memegang erat tangan ibu guru, terdiam seribu bahasa.
Diperingkat kedua adalah dokter atau rumah sakit.
Ancaman ini dipakai biasanya saat anak - anak tidak mau makan atau tidak bisa diam. Bergerak ke sana ke mari.
Bunyi ancamannya adalah 'kalau gak mau makan, nanti sakit. Disuntik pak dokter'. Atau 'kalau jatuh nanti dibawa ke rumah sakit lho'.
Hasilnya? Juga sukses.
Saat sakit sungguhan, jadi takut diperiksa ke rumah sakit atau bertemu dokter. Padahal, tidak semua sakit pasti di suntik lho.
Tapi bagi anak - anak, membayangkan jarum suntik yang runcing menusuk kulitnya, sudah sangat menakutkan.
Dan di peringkat ketiga, ancaman yang hanya ada di sekolah Amalia, yaitu Bu Yayuk.
Ancaman ini dipakai sesuka - sukanya wali murid saja.
Ketika ada anak yang tidak mau makan, maka bunyi ancamannya adalah 'mama telponin Bu Yayuk, nih' sambil pura - pura angkat telpon.
Atau ketika si anak sedang rewel, susah diatur (menurut ortu), maka ancamannya adalah 'ntar ibu bilangin Bu Yayuk'.
Hasilnya? Yaaa gitu, deh. Sukses juga.
Tapiiiiii.... aku tidak khawatir. Mereka hanya takut pada nama saja. Tidak dengan orangnya.
Karena setiap hari ketika datang ke sekolah, mereka masih tetap menghambur ke pelukanku, masih bermain dan bercanda, juga tidak pucat saat berjumpa.
Jadi...
Seharusnya tidak gunakan apapun untuk mengancam anak - anak.
(Posting : fb)
Komentar