Singkong Keju
Disebuah perjalanan silaturrahim ke rumah salah satu adik ibu, disuatu hari....
Hujan yang mengiringi perjalanan, membuat kami berpikir untuk mampir
sejenak membeli singkong keju. Tepat di jalan masuk menuju rumah bulek
di daerah Jakal, aku turun. Sementara yang lainnya menunggu saja di
dalam mobil.
Seraya menunggu pesananku dibuat, aku menyempatkan untuk ngobrol dengan si bapak. Penjual singkong keju.
"Sudah lama jualan singkong keju, Pak?" Aku membuka percakapan.
Tak dinyana. Pertanyaan singkat ini dijawab dengan sangat panjang oleh si bapak.
Dari yang awalnya ikut orang. Kemudian berjualan sendiri. Menanam singkong di lahan kecil yang dimiliki dan mengajak tetangganya untuk melakukan hal yang sama. Untuk memastikan beliau mendapatkan singkong terbaik.
Juga bagaimana rasa syukurnya. Karena mampu menghidupi keluarga dengan usaha sendiri. Tidak lagi bergantung pada orang lain.
Sepanjang beliau bercerita, aku memainkan semua ekspresi wajah, bahasa tubuh dan sesekali menimpalinya dengan kata - kata seperti 'oya', 'wow' dan yang sejenisnya. 😊.
Dan saat pesananku hampir selesai...
"Monggo mbak kalau mau nyicipin," beliau menawariku untuk mencicipi singkong kejunya.
"Saya ambil remah - remahnya ajah, Pak. Lebih terasa bumbunya," kataku seraya mengambil remah - remah singkong di gerobaknya.
"Mbaknya suka remah - remah tho? Sini saya kasih," beliau berkata seraya membungkuskan remah - remah dan memberikannya bersamaan dengan pesananku.
Tentu saja aku senang sekali. Ini rejeki tak terduga. Karena menyediakan telinga untuk mendengar. 😀.
Besok - besok di ulangi sama penjual lainnya, ah. 😜.
(Posting : fb)
Tak dinyana. Pertanyaan singkat ini dijawab dengan sangat panjang oleh si bapak.
Dari yang awalnya ikut orang. Kemudian berjualan sendiri. Menanam singkong di lahan kecil yang dimiliki dan mengajak tetangganya untuk melakukan hal yang sama. Untuk memastikan beliau mendapatkan singkong terbaik.
Juga bagaimana rasa syukurnya. Karena mampu menghidupi keluarga dengan usaha sendiri. Tidak lagi bergantung pada orang lain.
Sepanjang beliau bercerita, aku memainkan semua ekspresi wajah, bahasa tubuh dan sesekali menimpalinya dengan kata - kata seperti 'oya', 'wow' dan yang sejenisnya. 😊.
Dan saat pesananku hampir selesai...
"Monggo mbak kalau mau nyicipin," beliau menawariku untuk mencicipi singkong kejunya.
"Saya ambil remah - remahnya ajah, Pak. Lebih terasa bumbunya," kataku seraya mengambil remah - remah singkong di gerobaknya.
"Mbaknya suka remah - remah tho? Sini saya kasih," beliau berkata seraya membungkuskan remah - remah dan memberikannya bersamaan dengan pesananku.
Tentu saja aku senang sekali. Ini rejeki tak terduga. Karena menyediakan telinga untuk mendengar. 😀.
Besok - besok di ulangi sama penjual lainnya, ah. 😜.
(Posting : fb)
Komentar