Konsisten
Sepertinya ini akan jadi tulisan yang 'gak biasa'.....😊.
Paling sedih, susah, resah dan gelisah bila ada ortu yang berkeluh kesah seperti ini...
"Kalau di sekolah, mau membereskan mainannya setelah bermain. Tapi di rumah, susah banget. Kadang malah dibiarkan begitu saja mainannya berserakan."
Atau...
"Di sekolah makan sendiri, ya bu. Kalau di rumah baru mau makan kalau disuapin."
Yang ini juga...
"Di sekolah bisa mandiri. Tapi kalau di rumah, apa - apa minta diambilkan."
Daaaaannnn masih banyak lagi yang lainnya...
-----------------------
Di sekolah, semua kemandirian anak - anak, tidak terjadi tiba - tiba. Semua melalui proses yang kadang tidak hanya dalam hitungan hari tapi bisa juga sampai berbulan - bulan.
Sebelum sampai pada kemandirian itu, ibu guru akan mengenalkan dulu pada aturan. Juga 'reward and punishment' yang akan diterima. Setelah itu, 'keajegan' dalam menjalankan peraturan. Tidak berubah - ubah. Yang bisa membuat bingung anak - anak. Daaann.. peraturan harus diulang - ulang untuk mengingatkan mereka.
Misalnya, nih....
Salah satu peraturan di sekolah yang dikenalkan pada anak - anak adalah "buku dibaca atau dilihat isinya, bukan dilempar, dibuat mainan apalagi dirobek'. 😁.
Bila ada yang melanggar aturan ini, maka si anak tidak diperbolehkan memilih buku selama 1 minggu. Dia masih tetap bisa melihat isi buku atau mendengarkan cerita dari buku yang dipilih teman. Alias 'nunut' lihat buku. 😊.
Pastinya ada anak yang menolak hukuman ini. Walaupun terbukti dia melanggar aturan. Yang paling sering si anak menangis, merengek, ngambek. Tapi 'hukuman' tetap harus dilaksanakan.
Ibu guru menyiapkan telinga selebar - lebarnya untuk mendengarkan suara tangisan, rengekan. Karena seperti apapun menangisnya, si anak pasti akan lelah dan akhirnya mendatangi ibu guru.
Dan saat seperti ini, biasanya digunakan ibu guru untuk menjelaskan kembali apa yang terjadi. Dengan memeluk, memegang kedua tangannya atau dipangku.😊.
Bila si anak dapat memperlakukan buku dengan baik, maka 'hadiah' yang diberikan tidak harus berupa barang. Pujian, pelukan atau pengumuman di hadapan teman - teman atas apa yang telah dicapainya, sudah sangat menyenangkan untuk si anak.
Peraturan ini berlaku sama untuk semua anak. Yang usianya lebih kecil, juga dikenalkan dengan peraturan ini? Tentu saja. Anak - anak di sekolah dikenalkan aturan di usia sedini mungkin.
Saat menjalankan aturan ini, ibu guru harus satu kata dihadapan anak - anak. Bila satu ibu guru berkata 'tidak memilih buku', maka ibu guru yang lain pun akan mengatakan hal yang sama.
Soal nanti akan ada perdebatan tentang hal itu, akan dilakukan nanti, dibelakang anak - anak. Agar mereka tidak bingung melihat ibu gurunya berdebat.
Hasilnya?
Sekarang ibu guru cukup berkata, "Silakan ambil bukunya. Silakan dilihat isinya atau ke ibu guru untuk dibacakan cerita."
Anak - anak sudah tahu buku yang akan diambilnya di rak. Mereka juga sudah bisa memutuskan sendiri akan dibacakan atau hanya ingin melihat - lihat isi buku saja.
Jadi...kemandirian anak dapat dilatih sejak dini. Tapi ..... harus sabar menemani proses belajar mereka.
Karena untuk menghasilkan buah yang manis, sebatang pohon harus melewati tahapan ditanam, dipupuk, dirawat, dipelihara. Tidak ujug - ujug terhidang di depan mata. 😊.
Paling sedih, susah, resah dan gelisah bila ada ortu yang berkeluh kesah seperti ini...
"Kalau di sekolah, mau membereskan mainannya setelah bermain. Tapi di rumah, susah banget. Kadang malah dibiarkan begitu saja mainannya berserakan."
Atau...
"Di sekolah makan sendiri, ya bu. Kalau di rumah baru mau makan kalau disuapin."
Yang ini juga...
"Di sekolah bisa mandiri. Tapi kalau di rumah, apa - apa minta diambilkan."
Daaaaannnn masih banyak lagi yang lainnya...
-----------------------
Di sekolah, semua kemandirian anak - anak, tidak terjadi tiba - tiba. Semua melalui proses yang kadang tidak hanya dalam hitungan hari tapi bisa juga sampai berbulan - bulan.
Sebelum sampai pada kemandirian itu, ibu guru akan mengenalkan dulu pada aturan. Juga 'reward and punishment' yang akan diterima. Setelah itu, 'keajegan' dalam menjalankan peraturan. Tidak berubah - ubah. Yang bisa membuat bingung anak - anak. Daaann.. peraturan harus diulang - ulang untuk mengingatkan mereka.
Misalnya, nih....
Salah satu peraturan di sekolah yang dikenalkan pada anak - anak adalah "buku dibaca atau dilihat isinya, bukan dilempar, dibuat mainan apalagi dirobek'. 😁.
Bila ada yang melanggar aturan ini, maka si anak tidak diperbolehkan memilih buku selama 1 minggu. Dia masih tetap bisa melihat isi buku atau mendengarkan cerita dari buku yang dipilih teman. Alias 'nunut' lihat buku. 😊.
Pastinya ada anak yang menolak hukuman ini. Walaupun terbukti dia melanggar aturan. Yang paling sering si anak menangis, merengek, ngambek. Tapi 'hukuman' tetap harus dilaksanakan.
Ibu guru menyiapkan telinga selebar - lebarnya untuk mendengarkan suara tangisan, rengekan. Karena seperti apapun menangisnya, si anak pasti akan lelah dan akhirnya mendatangi ibu guru.
Dan saat seperti ini, biasanya digunakan ibu guru untuk menjelaskan kembali apa yang terjadi. Dengan memeluk, memegang kedua tangannya atau dipangku.😊.
Bila si anak dapat memperlakukan buku dengan baik, maka 'hadiah' yang diberikan tidak harus berupa barang. Pujian, pelukan atau pengumuman di hadapan teman - teman atas apa yang telah dicapainya, sudah sangat menyenangkan untuk si anak.
Peraturan ini berlaku sama untuk semua anak. Yang usianya lebih kecil, juga dikenalkan dengan peraturan ini? Tentu saja. Anak - anak di sekolah dikenalkan aturan di usia sedini mungkin.
Saat menjalankan aturan ini, ibu guru harus satu kata dihadapan anak - anak. Bila satu ibu guru berkata 'tidak memilih buku', maka ibu guru yang lain pun akan mengatakan hal yang sama.
Soal nanti akan ada perdebatan tentang hal itu, akan dilakukan nanti, dibelakang anak - anak. Agar mereka tidak bingung melihat ibu gurunya berdebat.
Hasilnya?
Sekarang ibu guru cukup berkata, "Silakan ambil bukunya. Silakan dilihat isinya atau ke ibu guru untuk dibacakan cerita."
Anak - anak sudah tahu buku yang akan diambilnya di rak. Mereka juga sudah bisa memutuskan sendiri akan dibacakan atau hanya ingin melihat - lihat isi buku saja.
Jadi...kemandirian anak dapat dilatih sejak dini. Tapi ..... harus sabar menemani proses belajar mereka.
Karena untuk menghasilkan buah yang manis, sebatang pohon harus melewati tahapan ditanam, dipupuk, dirawat, dipelihara. Tidak ujug - ujug terhidang di depan mata. 😊.
(Posting : fb)
Komentar