Salah
Khalisa... selalu punya cerita.
Pagi hari yang mulai panas, Khalisa datang dengan kerepotan yang luar biasa. Tangan kanan memegang bunga. Di tangan kirinya ada sepotong mendoan.
Sebegitu repotnya, hingga dia tak lagi sempat cium tangan sang ayah dan melambaikan tangan tanda perpisahan di pagi hari.
Semenit dua menit berlalu, Khalisa tetap berada di depan pintu sekolah. Tak beranjak masuk ke dalam. Tak juga segera menghabiskan mendoannya. Malah asyik mengomentari teman - temannya yang sudah mulai bermain.
Hingga kemudian...
"Khalisa Syifa Kirana, masuk ke dalam dan habiskan mendoannya," aku memanggilnya dengan nama panjang. Yang artinya, Bu Yayuk 'marah'.
.
Khalisa segera beranjak seraya mendekatkan tangan kanannya ke mulut. Siap untuk menggigit.
"Khalisa salah. Itu bunga, Nak. Bukan mendoan," aku berkata mengingatkannya.
Buru - buru Khalisa menurunkan tangan kanannya.
Makanya, Khal... mendoannya yang di tangan kanan. Bukan bunga.
.
Pagi hari yang mulai panas, Khalisa datang dengan kerepotan yang luar biasa. Tangan kanan memegang bunga. Di tangan kirinya ada sepotong mendoan.
Sebegitu repotnya, hingga dia tak lagi sempat cium tangan sang ayah dan melambaikan tangan tanda perpisahan di pagi hari.
Semenit dua menit berlalu, Khalisa tetap berada di depan pintu sekolah. Tak beranjak masuk ke dalam. Tak juga segera menghabiskan mendoannya. Malah asyik mengomentari teman - temannya yang sudah mulai bermain.
Hingga kemudian...
"Khalisa Syifa Kirana, masuk ke dalam dan habiskan mendoannya," aku memanggilnya dengan nama panjang. Yang artinya, Bu Yayuk 'marah'.
Khalisa segera beranjak seraya mendekatkan tangan kanannya ke mulut. Siap untuk menggigit.
"Khalisa salah. Itu bunga, Nak. Bukan mendoan," aku berkata mengingatkannya.
Buru - buru Khalisa menurunkan tangan kanannya.
Makanya, Khal... mendoannya yang di tangan kanan. Bukan bunga.
(Posting : fb)
Komentar