Nama
Nama, bagiku sesuatu yang penting. Karena itu merupakan identitas
seseorang. Dari nama itu, kita dikenali. Dipanggil. Dan dinama itu juga
ada do'a yang menyertai.
Itu sebabnya, aku paling cerewet bila sudah berhubungan dengan memanggil nama. Aku selalu mengingatkan anak - anak untuk memanggil nama teman dengan panggilan yang benar.
Seperti Evan dan Evans. Karena mereka adalah dua orang yang berbeda. Jadi, ketika memangil Evans, harus dipastikan huruf 's' nya turut serta. Agar yang menoleh Evans, bukan Evan.
.
Selain itu, aku juga paling rajin 'mengoreksi' panggilan yang tidak sesuai dengan huruf yang tertera pada nama seorang anak.
Masih lekat dalam ingatan, betapa dulu ibu guru 'keukeuh' memanggil Jason dengan Jason bukan Jesen seperti yang diinginkan sang mama. Alasan ibu guru sederhana. Karena dalam bahasa Indonesia, semua huruf dibaca sebagaimana tulisannya. Jadi, 'a' dibunyikan 'a', bukan 'e'.
.
Tak jarang, anak juga memiliki nama yang 'sulit' diucapkan oleh teman lainnya. Seperti Tsaqib. Entah berapa ratus kali aku mengingatkan anak - anak untuk memanggilnya 'Tsaqib' bukan 'Sakip'.
.
Harus diakui, memang tidak mudah bagi sebagian anak untuk meletakkan lidah diantara gigi atas dan bawah, menjulurkannya sedikit agar bisa menghasilkan panggilan yang berbunyi 'Tsaqib'.
Tapi, aku menyerah bila sudah berhubungan dengan huruf 'z'.
Berada di tempat, dimana lidah 'lokal' terasa sulit membunyikan huruf 'z', tak jarang akhirnya membuatku untuk memaklumi saja. Tanpa protes.
Saat Dzikra menjadi 'Jikra' atau 'Yikra'. Lain waktu, Mizan yang berubah menjadi 'Mijan' atau 'Miyan'.
Dan yang paling 'menyakitkan' adalah ketika nama sebagus Azzam berubah tanpa persetujuan menjadi 'Ajam' bahkan 'Ayam'.
.
#edisikangenanakanak
Itu sebabnya, aku paling cerewet bila sudah berhubungan dengan memanggil nama. Aku selalu mengingatkan anak - anak untuk memanggil nama teman dengan panggilan yang benar.
Seperti Evan dan Evans. Karena mereka adalah dua orang yang berbeda. Jadi, ketika memangil Evans, harus dipastikan huruf 's' nya turut serta. Agar yang menoleh Evans, bukan Evan.
Selain itu, aku juga paling rajin 'mengoreksi' panggilan yang tidak sesuai dengan huruf yang tertera pada nama seorang anak.
Masih lekat dalam ingatan, betapa dulu ibu guru 'keukeuh' memanggil Jason dengan Jason bukan Jesen seperti yang diinginkan sang mama. Alasan ibu guru sederhana. Karena dalam bahasa Indonesia, semua huruf dibaca sebagaimana tulisannya. Jadi, 'a' dibunyikan 'a', bukan 'e'.
Tak jarang, anak juga memiliki nama yang 'sulit' diucapkan oleh teman lainnya. Seperti Tsaqib. Entah berapa ratus kali aku mengingatkan anak - anak untuk memanggilnya 'Tsaqib' bukan 'Sakip'.
Harus diakui, memang tidak mudah bagi sebagian anak untuk meletakkan lidah diantara gigi atas dan bawah, menjulurkannya sedikit agar bisa menghasilkan panggilan yang berbunyi 'Tsaqib'.
Tapi, aku menyerah bila sudah berhubungan dengan huruf 'z'.
Berada di tempat, dimana lidah 'lokal' terasa sulit membunyikan huruf 'z', tak jarang akhirnya membuatku untuk memaklumi saja. Tanpa protes.
Saat Dzikra menjadi 'Jikra' atau 'Yikra'. Lain waktu, Mizan yang berubah menjadi 'Mijan' atau 'Miyan'.
Dan yang paling 'menyakitkan' adalah ketika nama sebagus Azzam berubah tanpa persetujuan menjadi 'Ajam' bahkan 'Ayam'.
#edisikangenanakanak
(Posting : fb)
Komentar