Tanggung Jawab

Sudah selayaknya dan memang seharusnya, di sekolah, anak - anak di ajarkan dan dikenalkan dengan hal - hal baik. Seperti membereskan kembali mainan setelah selesai bermain.

Pernah ada yang bertanya...
'Ibu guru repot banget, ya? Segitu banyak anak - anak, pasti capek kalau harus membereskan mainan yang bertebaran dimana - mana.'

Itu tidak benar sama - sekali. Ibu guru tidak pernah membereskan mainan anak - anak. Mereka sendiri yang membereskan semua mainannya.
Kok bisa?

Karena anak - anak dibiasakan untuk membereskan terlebih dulu mainannya, sebelum melakukan permainan lainnya. Mereka sudah tahu keranjang yang ini diletakkan di rak yang itu. Dan keranjang lainnya di rak sebelah sana.
Kok bisa (lagi)?

Saat di sekolah, anak - anak dikenalkan dengan tanggung jawab. Ketika mereka mengambil mainan, maka mereka bertanggung jawab untuk membereskan dan mengembalikan lagi pada tempatnya.
Dan 'pemberitahuan' tentang hal ini dilakukan secara terus menerus dan berulang - ulang. Sehingga anak - anak menjadi terbiasa dan bisa saling mengingatkan, bila ada temannya yang tidak membereskan mainan.

Semua anak seperti itu?
Tentu saja. Dari anak terkecil hingga yang paling besar, sudah dikenalkan tentang tanggung jawab ini. Dari Putri yang berusia 2,5 tahun hingga Olivia yang sudah akan TK. Tanpa terkecuali.
Semakin dini mereka mengenal tanggung jawab, maka semakin dini juga mereka terlatih untuk disiplin.

Dan tahukah? Mengenalkan tanggung jawab sejak dini dan konsisten, membuat anak - anak menjadi mandiri. Mereka tidak tergantung dengan bantuan orang lain.

Jadi.... ibu guru agak 'aneh', ketika banyak wali murid yang mengeluhkan anaknya yang tidak mau membereskan mainannya saat di rumah.😕.

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer