Mendadak Ramai
Disuatu sore yang mulai lelah, Dzikra dijemput terakhir. Karenanya, dia pulang bersamaan dengan ibu guru pulang sekolah.
Sampai disini, semua berjalan biasa saja. Hingga di ujung jalan raya yang ramai...
"Bu Yayuk.. Bu Yayuk!" Sebuah panggilan yang lebih menyerupai teriakan terdengar olehku. Teriakan kuenceng untuk mengalahkan bisingnya keramaian jalan raya.
Aku menoleh mencari sumber suara. Berbarengan dengan beberapa pengendara lain yang saat itu sepertinya mendengarkan juga teriakan nyaring tadi.
"Bu Yayuk, aku dibelakangnya Bu Yayuk," sebuah sumber suara kutemukan. Suara Dzikra.
Berada sekitar 10 meter di belakangku. Diantara keramaian lalu lintas dekat sekolah. Juga dibawah pandangan beberapa pasang mata. Aku menoleh dan melambaikan tangan pada Dizkra. Berharap apa yang kulakukan, cukup untuk menghentikan panggilannya.
Tapi tidak..
"Aku disini, Bu Yayuk," teriaknya lagi.
Dan rasanya mukaku sudah berubah menjadi warna pelangi. Karena sudah terlalu banyak pasang mata yang melihat ke arahku.
"Ah, mengapa jalan ini jadi begitu ramai, ya?" 😊.
Sampai disini, semua berjalan biasa saja. Hingga di ujung jalan raya yang ramai...
"Bu Yayuk.. Bu Yayuk!" Sebuah panggilan yang lebih menyerupai teriakan terdengar olehku. Teriakan kuenceng untuk mengalahkan bisingnya keramaian jalan raya.
Aku menoleh mencari sumber suara. Berbarengan dengan beberapa pengendara lain yang saat itu sepertinya mendengarkan juga teriakan nyaring tadi.
"Bu Yayuk, aku dibelakangnya Bu Yayuk," sebuah sumber suara kutemukan. Suara Dzikra.
Berada sekitar 10 meter di belakangku. Diantara keramaian lalu lintas dekat sekolah. Juga dibawah pandangan beberapa pasang mata. Aku menoleh dan melambaikan tangan pada Dizkra. Berharap apa yang kulakukan, cukup untuk menghentikan panggilannya.
Tapi tidak..
"Aku disini, Bu Yayuk," teriaknya lagi.
Dan rasanya mukaku sudah berubah menjadi warna pelangi. Karena sudah terlalu banyak pasang mata yang melihat ke arahku.
"Ah, mengapa jalan ini jadi begitu ramai, ya?" 😊.
(Posting : fb)
Komentar